TIMIKA – Kepala Puskesmas Limau Asri, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Maria Yosinta Rahangiar, melaporkan dugaan ancaman dan teror yang disebut berdampak pada rasa aman tenaga kesehatan di lingkungan Puskesmas Limau Asri.
Maria menyampaikan hal tersebut saat diwawancarai di Polres Mimika, Senin (28/9/2026). Ia mengatakan, persoalan bermula dari masalah rumah tangga salah satu pegawai Puskesmas Limau Asri, Ayu Andira, yang mengaku merasa terancam dan meminta perlindungan.
Menurut Maria, sebelumnya sejumlah pegawai juga disebut pernah mengalami kejadian dikejar dan diikuti menggunakan sepeda motor oleh seseorang yang membawa benda tajam. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada kepolisian.
Tak lama berselang, Ayu Andira melaporkan persoalan rumah tangga yang melibatkan suaminya, Haji Sahrul. Maria kemudian memberikan izin kepada Ayu untuk sementara menempati rumah dinas yang kosong karena khawatir terhadap keselamatannya.
Namun, karena kondisi di sekitar Puskesmas dinilai belum memungkinkan, Ayu kemudian memilih bermalam di Polres Mimika selama dua malam. Setelah itu, Ayu diberangkatkan ke Makassar dengan pengawalan kepolisian hingga ke bandara.
“Saya izinkan untuk rasa nyaman, karena terancam dan takut kembali ke situ,” ujar Maria.
Maria mengatakan, kondisi tersebut kemudian dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika. Atas arahan Dinas Kesehatan, Ayu diberikan cuti sementara untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
Setelah menjalani cuti sekitar satu bulan lebih, Ayu kemudian kembali bekerja di Puskesmas Limau Asri.
Maria juga membantah tudingan telah melakukan manipulasi absensi atau memasukkan kehadiran Ayu selama yang bersangkutan tidak masuk kerja.
Ia menegaskan, seluruh administrasi terkait kehadiran dan cuti telah disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.
“Saya tidak mengambil orang punya uang. Semua bukti saya kirim ke dinas,” tegasnya.
Menurut Maria, persoalan yang pada awalnya merupakan masalah rumah tangga tersebut kini dinilai telah berdampak terhadap lingkungan Puskesmas Limau Asri.
Ia menyebut adanya dugaan teror serta tulisan yang ditemukan di bagian belakang sebuah kendaraan di lingkungan Puskesmas. Temuan tersebut membuat sejumlah pegawai merasa tidak nyaman dan khawatir.
Maria juga menyebut adanya tulisan yang menurutnya bernuansa rasis dan berpotensi memperkeruh situasi. Namun, isi tulisan serta pihak yang membuatnya masih perlu dipastikan melalui penyelidikan aparat kepolisian.
Karena merasa keamanan tenaga kesehatan terganggu, Maria bersama sejumlah pegawai kemudian mendatangi Polres Mimika untuk melaporkan persoalan tersebut.
“Kami merasa tidak nyaman. Teman-teman akhirnya bilang, Ibu, kita turun semua ke Polres. Jangan diam lagi. Kita harus lapor supaya bisa ditangani,” katanya.
Maria berharap kepolisian menindaklanjuti laporan tersebut dan memastikan keamanan tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Limau Asri.
Ia menegaskan, pihak Puskesmas tidak bermaksud mencampuri persoalan rumah tangga antara Ayu Andira dan suaminya. Menurut Maria, persoalan tersebut sebelumnya telah melalui proses mediasi dan disebut telah terdapat surat perceraian tertanggal 17 September 2026.
Maria mengatakan, laporan yang disampaikan pihak Puskesmas kali ini bukan terkait persoalan rumah tangga tersebut, melainkan dugaan ancaman yang disebut telah berdampak terhadap pegawai dan lingkungan Puskesmas.
Ia juga menyebut persoalan tersebut telah diketahui Dinas Kesehatan dan sejumlah pihak terkait. Maria berharap penanganan dilakukan melalui jalur hukum sehingga tidak berkembang menjadi persoalan antarkelompok ataupun membawa-bawa identitas suku.
“Ini bukan urusan kami soal rumah tangga mereka. Kami melapor karena ada ancaman kepada seluruhnya dan kami merasa tidak nyaman,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, dugaan ancaman dan pihak yang bertanggung jawab atas tulisan maupun dugaan teror tersebut masih dalam penanganan dan penyelidikan aparat kepolisian. Keterangan dari pihak yang dilaporkan juga diperlukan untuk memperoleh gambaran yang berimbang mengenai persoalan tersebut.








