JAYAPURA – Kodam XVII/Cenderawasih memperkuat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran dan dampak kabut asap terhadap aktivitas penerbangan.
Langkah tersebut dilakukan menyusul munculnya sejumlah titik api di beberapa wilayah Papua. Kabut asap yang mengganggu jarak pandang menjadi perhatian serius karena berpotensi menghambat operasional penerbangan di sejumlah bandara, terutama di wilayah pegunungan.
Penguatan strategi penanganan karhutla dibahas dalam rapat koordinasi melalui konferensi video atau video conference (vicon) bersama Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan), Rabu (21/10/2026). Rapat tersebut bertujuan memetakan kesiapsiagaan satuan kewilayahan dan menyelaraskan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.
Kebakaran Terjadi di Jayapura dan Jayawijaya
Salah satu kebakaran terjadi di kawasan Bukit Alang-Alang, tepat di belakang Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Jayapura dan dekat akses menuju RS Yowari, pada Minggu (11/10/2026).
Dalam kejadian tersebut, dua Babinsa Koramil 1701-01/Sentani, Serma Samudin dan Serka Alpius Sanggana, bersama warga berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya. Upaya tersebut dilakukan karena keterbatasan akses bagi armada pemadam kebakaran menuju lokasi.
Kebakaran juga terjadi di Kampung Wesakin, Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, pada Jumat (16/10/2026). Peristiwa tersebut menghanguskan lahan seluas kurang lebih tiga hektare. Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan aparat terkait.
Kabut Asap Berdampak pada Penerbangan
Dampak karhutla menjadi perhatian karena kabut asap dapat menurunkan jarak pandang dan mengganggu keselamatan penerbangan, terutama di wilayah pegunungan Papua yang memiliki tantangan geografis dan kondisi cuaca yang dinamis.
Berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan dalam keterangan tersebut, kabut asap di wilayah Papua dipengaruhi sejumlah titik panas (hotspot) di Papua Nugini dan Provinsi Papua Selatan.
Kondisi ini berdampak pada operasional sejumlah bandara, di antaranya Bandara Sentani, Wamena, Oksibil, dan Dekai. Sejumlah penerbangan dilaporkan sempat mengalami penundaan hingga pembatalan demi mengutamakan keselamatan penumpang.
Kodam Siagakan Personel dan Peralatan
Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, S.I.P., menegaskan bahwa Kodam terus memperkuat kesiapsiagaan personel di wilayah, khususnya Babinsa yang berperan langsung dalam membantu masyarakat mengantisipasi dan menangani kebakaran sejak dini.
“Penanganan sejak dini sangat krusial agar dampak kebakaran terhadap lingkungan, transportasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat ditekan sekecil mungkin,” ujar Tri Purwanto.
Selain mengerahkan personel, sejumlah Komando Distrik Militer (Kodim) di jajaran Kodam XVII/Cenderawasih juga menyiagakan sarana dan prasarana pendukung penanganan karhutla.
Peralatan tersebut meliputi mobil pemadam kebakaran, truk tangki air, ambulans, serta kendaraan operasional yang dapat digunakan untuk menjangkau medan sulit.
Kesiapan personel dan dukungan peralatan diharapkan mempercepat respons apabila ditemukan titik api baru, terutama di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Kodam XVII/Cenderawasih mengimbau masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan pertanian dengan cara membakar. Warga juga diminta memastikan tidak ada sisa api yang ditinggalkan tanpa pengawasan karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.
Masyarakat yang menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan diminta segera melaporkannya kepada Babinsa, Koramil, atau petugas terkait.
Kecepatan penyampaian informasi dinilai penting untuk mendukung penanganan awal, khususnya di kawasan pedalaman dengan akses terbatas.
Kodam XVII/Cenderawasih menegaskan bahwa sinergi antara masyarakat, TNI, pemerintah daerah, dan instansi penanggulangan bencana menjadi faktor penting dalam mencegah meluasnya karhutla serta mengurangi dampak kabut asap terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat di Papua.








