Pakai Baju Hitam, Pendukung BTM–CK Teriakkan Duka Demokrasi Papua

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 17 Oktober 2025 - 21:23 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARATANAHPAPUA.COM – Benhur Tomi Mano (BTM) dan Constant Karma (CK), akhirnya angkat bicara pasca hasil Pilkada Papua 2025. Dalam konferensi pers bersama Koalisi Perjuangan Rakyat yang digelar di kediaman BTM, Jalan Jeruk Nipis, Kotaraja Jumat Sore 17 Oktober 2025, dengan suasana haru dan semangat perjuangan menyelimuti acara tersebut.

Ratusan relawan, simpatisan, dan pendukung hadir dengan pakaian serba hitam — simbol duka atas apa yang mereka sebut sebagai “matinya demokrasi di Tanah Papua.”

Dalam pernyataannya, BTM dengan suara tegas namun penuh emosi menyampaikan terima kasih kepada seluruh rakyat Papua yang telah berjuang mendukung mereka selama proses Pilkada.

“Saya ingin sampaikan kepada seluruh rakyat Papua, kita adalah pemenang sejati. Hanya saja, sistem dan proses yang tidak adil telah menyingkirkan suara rakyat. Kami tidak kalah oleh rakyat, kami dikalahkan oleh sistem yang tidak benar,” ujar BTM lantang.

Ia menilai proses Pilkada kali ini sarat kejanggalan, mulai dari keputusan hukum yang diabaikan hingga proses administrasi yang tidak transparan. Menurutnya, keputusan pengadilan terkait calon wakil sebelumnya bahkan tidak dihormati oleh penyelenggara pemilu.

“Ada waktu 30 hari untuk memperbaiki kesalahan administrasi, tapi KPU tidak memberi tahu kami. Ini bentuk ketidakadilan yang nyata,” tambahnya.

Lebih jauh, BTM menyebut kondisi demokrasi di Papua kini sedang berduka. Ia menyimbolkan situasi itu melalui pakaian hitam yang dikenakan para pendukungnya.

“Hari ini kami berpakaian hitam sebagai tanda matinya demokrasi di Tanah Papua. Kebenaran sedang diputarbalikkan, tapi saya yakin Tuhan Yesus tidak buta dan tidak tidur,” tegasnya dengan nada bergetar.

BTM juga menegaskan bahwa dirinya dan Constant Karma adalah pemimpin pilihan rakyat, bukan hasil intervensi politik dari pusat.

“BTM–CK bukan pilihan Jakarta, kami pilihan rakyat. Kami lahir dari hati nurani rakyat Papua. Tapi pemerintah pusat justru melantik mereka yang kalah, bukan yang dipilih rakyat,” ucapnya.

Meski kecewa, BTM mengajak seluruh pendukung untuk tetap tegar dan tidak kehilangan semangat perjuangan.

“Jangan menangis. Kita bukan pecundang, kita petarung. Air mata rakyat menetes karena demokrasi dicurangi, tapi perjuangan ini belum berakhir,” pesannya disambut tepuk tangan para pendukung.

Sementara itu, Constant Karma menyerukan agar seluruh simpatisan tetap bersatu, sabar, dan tidak terprovokasi. Ia menegaskan bahwa perjuangan mereka akan terus berlanjut dalam bentuk lain yang lebih konstruktif.

“Perjuangan ini belum selesai. Ini bukan akhir, tapi awal dari jalan baru yang lebih besar. Kita akan tetap bekerja untuk rakyat, dari kampung, pesisir, lembah, sampai kota,” ujar Karma.

Menurutnya, kekalahan yang dialami bukan karena minim dukungan, melainkan akibat sistem yang tidak jujur dan merusak kepercayaan rakyat terhadap demokrasi.

“Kita tidak kalah oleh rakyat, tapi oleh sistem yang curang. Suara rakyat dihapus dan diabaikan, tapi suara nurani tidak bisa dibungkam. Kebenaran tidak mati,” katanya.

BTM–CK juga mengirim pesan kepada pemerintah pusat agar menghormati nilai-nilai demokrasi dan mendengar suara rakyat Papua.

“Kami minta pemerintah pusat menegakkan keadilan. Jangan biarkan rakyat kehilangan kepercayaan, karena ketika itu terjadi, demokrasi kehilangan rohnya,” tegas BTM.

Menutup konferensi pers, pasangan ini berpesan kepada seluruh pendukung agar tidak membubarkan gerakan perjuangan, melainkan mengubahnya menjadi wadah konstruktif bagi pengawasan dan kritik terhadap pemerintahan ke depan.

“Kritik yang membangun adalah wujud cinta pada Papua. Jangan berhenti mencintai tanah ini hanya karena kita kalah secara politik,” tutur BTM.

Di akhir acara, BTM menyampaikan pesan reflektif yang menenangkan:

“Kita akan bertemu lagi, bukan di panggung politik, tapi di rumah ibadah, di kebun, di pasar, di dermaga. Teruslah bekerja dengan jujur dan ajarkan kebenaran kepada anak-anak kita. Karena perjuangan ini belum selesai.”

Baca Juga :  Yuliyanto SH, MH : Pilkada Papua Tengah Paling Brutal, Harus Dievaluasi Total !

Berita Terkait

KNMP TANJUNG KASUARI PERKUAT INFRASTRUKTUR PERIKANAN, AKSES EKSPOR NELAYAN JADI PERHATIAN
*KNMP Kota Sorong Perkuat Rantai Dingin, Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal*
1.370 Kapal Fiber KNMP Diproduksi di Manokwari, Buka Peluang Kerja bagi Putra Papua
Satgas Damai Cartenz Tangkap DPO Penganiayaan Berat di Puncak jaya, Dugaan Keterkaitan Jaringan Senjata dan Amunisi Didalami
KNMP Wamargege Didorong Perkuat Ekonomi Nelayan dan Potensi Udang Banana Sorong Selatan
Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Papua, Kodam Cenderawasih Perkuat Penanganan Karhutla
Pria 58 Tahun Ditemukan Meninggal di Entrop Jayapura, Polisi Lakukan Penyelidikan
Lindungi Hak Masyarakat, Kementerian ATR/BPN Selesaikan 3.018 Kasus Pertanahan
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 14:28 WIT

KNMP TANJUNG KASUARI PERKUAT INFRASTRUKTUR PERIKANAN, AKSES EKSPOR NELAYAN JADI PERHATIAN

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:20 WIT

*KNMP Kota Sorong Perkuat Rantai Dingin, Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal*

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:15 WIT

1.370 Kapal Fiber KNMP Diproduksi di Manokwari, Buka Peluang Kerja bagi Putra Papua

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:56 WIT

Satgas Damai Cartenz Tangkap DPO Penganiayaan Berat di Puncak jaya, Dugaan Keterkaitan Jaringan Senjata dan Amunisi Didalami

Kamis, 22 Oktober 2026 - 05:05 WIT

Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Papua, Kodam Cenderawasih Perkuat Penanganan Karhutla

Berita Terbaru

Uncategorized

KNMP SUPRAU PERKUAT RANTAI USAHA PERIKANAN DI SORONG PAPUA BARAT DAYA

Minggu, 25 Okt 2026 - 16:42 WIT