SUARATANAHPAPUA.COM , – International Fund for Agricultural Development atau IFAD, lembaga khusus di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal serta Kitong Bisa Foundation resmi memulai operasional program pemberdayaan masyarakat kampung di Provinsi Papua.
Dimulainya kegiatan tersebut ditandai dengan pembukaan kantor operasional Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu–Perencanaan Berbasis Rumah Tangga atau TEKAD PBRT di Waena, Kota Jayapura, pada Rabu, 29 Juli 2026.
Kantor operasional tersebut akan menjadi pusat koordinasi pelaksanaan pelatihan, pendampingan, pengembangan usaha, serta penguatan kapasitas masyarakat di kampung-kampung sasaran program.
Program TEKAD PBRT merupakan kolaborasi antara Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, IFAD, dan Kitong Bisa Foundation. Program ini diarahkan untuk membantu mengurangi kemiskinan dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui pendekatan pemberdayaan berbasis rumah tangga.
Melalui program tersebut, masyarakat akan mendapatkan pelatihan pengelolaan keuangan keluarga, perencanaan ekonomi rumah tangga, kewirausahaan, pendampingan usaha, serta dukungan permodalan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif di kampung.
Papua dipilih sebagai salah satu wilayah pelaksanaan program karena masih menghadapi tantangan kemiskinan, keterbatasan akses ekonomi, kesenjangan pembangunan, serta ketimpangan gender yang masih tinggi. Partisipasi perempuan dalam Program TEKAD juga masih relatif rendah, yakni sekitar 24 persen, terutama dalam perencanaan desa, kegiatan ekonomi produktif, dan pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga.
Di Provinsi Papua, Program TEKAD PBRT akan dilaksanakan di empat kabupaten, 19 distrik, dan 79 kampung, dengan sasaran lebih dari 1.975 rumah tangga, terutama keluarga Orang Asli Papua.
Empat kabupaten yang menjadi wilayah pelaksanaan program adalah Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, dan Kepulauan Yapen.
Setiap rumah tangga peserta akan dibantu untuk memetakan kondisi ekonomi keluarga, mencatat sumber pendapatan dan pengeluaran, mengenali aset produktif, menyusun prioritas kebutuhan, merencanakan pendidikan anak, serta mengembangkan kegiatan usaha berdasarkan potensi yang tersedia di masing-masing kampung.
Kitong Bisa Foundation dipilih sebagai mitra pelaksana lokal karena memiliki pengalaman dalam menjalankan berbagai program pendidikan, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat di Papua, termasuk program-program yang memperoleh dukungan dari lembaga nasional dan internasional.
Pembukaan kantor operasional Program TEKAD PBRT dilakukan oleh perwakilan Kementerian Desa dan PDT, Ketua Tim Kerja Peningkatan Kapasitas Program TEKAD Gilar Cahya Nirmaya, S.Si., M.AP. Ketua Tim Kerja Peningkatan Kapasitas Program TEKAD, bersama Direktur Utama Kitong Bisa Foundation, Mohamad Afif Dzulqifli, serta Adviser Kitong Bisa Foundation, Rachel Mambrasar.
Gilar menyampaikan bahwa keberadaan kantor operasional di Papua diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara pemerintah, IFAD, Kitong Bisa Foundation, pemerintah daerah, pemerintah kampung, fasilitator, serta masyarakat penerima manfaat.
“Kantor ini diharapkan menjadi pusat koordinasi dan penggerak kegiatan Program TEKAD PBRT di Papua. Dari tempat ini, seluruh proses pelatihan, pendampingan, pemantauan, dan evaluasi program akan dikoordinasikan agar dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kampung,” ujar Gilar.
Direktur Utama Kitong Bisa Foundation, Mohamad Afif Dzulqifli, mengatakan bahwa kantor operasional tersebut tidak hanya akan digunakan untuk menjalankan kegiatan administratif program, tetapi juga menjadi ruang belajar dan kolaborasi bagi generasi muda Papua.
“Kami berharap kantor ini menjadi rumah bersama bagi anak-anak muda Papua yang memiliki semangat untuk membangun daerahnya. Tempat ini dapat digunakan untuk berdiskusi, belajar, mengembangkan gagasan, dan merancang berbagai kegiatan yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat Papua,” ujar Mohamad Afif Dzulqifli.
Menurutnya, keberhasilan Program TEKAD PBRT sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat lokal. Karena itu, program tersebut melibatkan putra-putri asli Papua sebagai fasilitator yang akan mendampingi rumah tangga peserta di setiap kampung.
Para fasilitator terpilih akan mendapatkan pelatihan secara berkala di kantor operasional tersebut sebelum diterjunkan ke wilayah penugasan masing-masing.
Pelatihan fasilitator mencakup metode Perencanaan Berbasis Rumah Tangga, literasi keuangan, kewirausahaan, komunikasi masyarakat, pengumpulan data, pendampingan usaha, kesetaraan gender, serta pemetaan potensi ekonomi kampung.
Adviser Kitong Bisa Foundation, Rachel Mambrasar, menjelaskan bahwa para fasilitator dipersiapkan agar mampu menyampaikan konsep ekonomi dan pengelolaan keuangan dengan bahasa yang sederhana, kontekstual, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
“Fasilitator bukan hanya datang untuk memberikan materi. Mereka akan berjalan bersama masyarakat, mendengarkan persoalan yang dihadapi setiap keluarga, membantu menyusun rencana ekonomi, dan memastikan pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Rachel Mambrasar.
Pelibatan pemuda dan pemudi asli Papua sebagai fasilitator juga diharapkan dapat memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap program. Para fasilitator lokal dinilai memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai bahasa, budaya, karakteristik sosial, serta kondisi geografis masyarakat di wilayah penugasan.
Setelah menyelesaikan pelatihan, para fasilitator akan dikirim ke 79 kampung untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada lebih dari 1.700 rumah tangga penerima manfaat.
Sebagian wilayah dapat dijangkau melalui perjalanan darat, sedangkan sejumlah kampung di wilayah kepulauan harus ditempuh menggunakan transportasi laut. Meskipun menghadapi medan yang berat, para fasilitator diharapkan tetap menjalankan tugas dengan semangat dan tanggung jawab.
Program TEKAD PBRT diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan masyarakat, tetapi juga menciptakan perubahan jangka panjang dalam pengelolaan ekonomi keluarga, peningkatan pendapatan, pengembangan usaha produktif, dan pengurangan kemiskinan.
Keberadaan kantor operasional Program TEKAD PBRT di Waena juga menjadi simbol dimulainya kolaborasi jangka panjang antara pemerintah, lembaga internasional, organisasi lokal Papua, pemerintah kampung, dan masyarakat.







