GREAT Institute: Perang Tarif Trump Momentum Membangun Tanpa Ciptakan Ketergantungan

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 20 April 2025 - 14:08 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari kiri ke kanan: pendiri FPC Dino Patti Djalal, Prof. Jeffrey Sach dari Columbia University, Kishore Mahbubani dari NUS Singapura, Dubes Tiongkok di AS Cui Tiankai, dan Direktur Geopolitik GREAT Institute Teguh Santosa

Dari kiri ke kanan: pendiri FPC Dino Patti Djalal, Prof. Jeffrey Sach dari Columbia University, Kishore Mahbubani dari NUS Singapura, Dubes Tiongkok di AS Cui Tiankai, dan Direktur Geopolitik GREAT Institute Teguh Santosa

JAKARTA — Seburuk apapun dampak dari kebijakan pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat menaikkan tarif, tetap ada hal yang dapat dipelajari dan dijadikan momentum untuk membangun masa depan setiap bangsa yang lebih baik, yang bebas dari ketergantungan.

Demikian pesan yang disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, mengomentari salah satu perdebatan yang terjadi di Boao Forum for Asia (BFA) di Hainan, Tiongkok, tanggal 25 sampai 28 Maret yang lalu. Pesan itu dituliskan Teguh yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, di laman Facebook milik pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal.

Dino menghadiri langsung BFA 2025 itu dan membagikan potongan debat menarik antara Prof. Jeffrey Sach dari Columbia University dan Prof. Kishore Mahbubani dari NUS Singapura, serta mantan Duta Besar Tiongkok untuk AS (2013-2021) Cui Tiankai.

Awalnya, Prof. Sach mengatakan, bahwa sudah saatnya Amerika Serikat diabaikan. Dunia, katanya, membutuhkan teknologi hijau dan digital, dan Republik Rakyat Tiongkok memimpin di sektor itu.

Baca Juga :  Partai Demokrat dan Gelora Dorong Pembangunan 4.000 Rumah Pasca Banjir di Papua Pegunungan

“Gagasan bahwa AS adalah pusat dari semesta adalah delusional untuk waktu yang cukup lama,” ujarnya.

Dia menambahkan, dunia mungkin tidak akan menyaksikan kehancuran AS, tetapi akan melihat AS tidak lagi menjadi kekuatan yang mengendalikan perubahan, peraturan, prinsip-prinsip, dan organisasi dunia.

Sementara Prof. Mahbubani berpendapat sebaliknya. Dunia, menurut dia, tidak mungkin mengabaikan AS mengingat negara itu sangat besar dan luar biasa serta memiliki pengaruh pada Asia.

“Kita tidak dapat mengabaikannya. Tetapi di saat yang sama saya juga mengatakan, adalah sebuah kesalahan memandang remeh perlawanan dari kawasan ini. Sangat mungkin Asia akan lebih baik daripada negara-negara lain di dunia,” ujarnya.

Adapun Dubes Cui mengatakan, para diplomat sebenarnya ingn mengatakan kepada AS agar memperhatikan urusan mereka sendiri, dan tidak ikut campur dalam urusan negara lain.

“Kami tidak ingin mengabaikan AS. Kami sangat ingin AS mengabaikan kami,” ujarnya.

Tetapi, sambung Dubes Cui, di saat yang sama kita harus membangun komunitas bangsa-bangsa demi masa depan bersama. Dan itu meliputi AS.

Baca Juga :  Ini Link Live Quick Count PSU Gub Papua, BTM-CK vs Mari-Yo

“Ini bukan komunitas minus 1. Ini komunitas plus 1,” ujarnya.

Setelah potongan pernyataan Dubes Cui ini, Dino yang juga pernah menjadi Dubes Indonesia di AS (2012-2013) mengundang teman-teman Facebooknya untuk berkomentar.

Teguh Santosa yang mengenal baik Dubes Dino Patti Djalal pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan pandangannya.

Teguh mengatakan, dirinya menyukai frase yang disampaikan Dubes Cui Tiankai bahwa dunia ini “bukan komunitas minus 1”.

“Kita menghadapi pemerintahan Trump, dan itu mungkin akan berubah dalam beberapa tahun,” ujarnya.

Dengan demikian, Teguh mengajak agar kebijakan Trump itu dijadikan momentum bagi masyarakat dunia, setiap negara, untuk memikirkan kembali masa depan yang lebih baik, untuk membuka banyak peluang, untuk menunjukkan kemampuan masing-masing negara dalam membangun jembatan hubungan tanpa bergantung pada kekuatan tertentu.

“Sejarah memperlihatkan bahwa kita telah berkali-kali belajar dari situasi buruk dan terburuk,” demikian Teguh. []

Berita Terkait

Di Tengah Gelap, Medan Terjal, dan Suhu dingin ekstrim 3 Derajat, Prajurit Koops TNI Habema Amankan Senjata Kelompok Bersenjata di Gamagai
OPM Diduga Tembak Mati Empat Pekerja Proyek Jalan di Tolikara, Kodam XVII/Cenderawasih Kecam Aksi Kekerasan
Lembaga Resmi PBB resmi buka kantor operasional di Papua, Gandeng Kitong Bisa Foundation
Pecahkan Rekor Nasional, Kemendes PDT Gandeng Kitong Bisa Foundation Latih dan Dampingi 1.975 Rumah Tangga di 79 Desa di Papua lewat Program TEKAD PBRT untuk Kurangi Angka Kemiskinan
Koops TNI Habema Salurkan Lebih dari Dua Ton Bantuan untuk Warga Terdampak El Nino di Kabupaten Puncak
TNI Habema Evakuasi Jenazah Korban Penembakan OPM di Yahukimo
Empat Pemain Persipura Dipanggil Bela Indonesia All-Star Lawan Aston Villa, PT NCK: Kebanggaan bagi Papua
Horison Kotaraja Rayakan HUT Ke-7 Bertema “Koboi”, Usung Semangat Tangguh Hadapi Persaingan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:40 WIT

Di Tengah Gelap, Medan Terjal, dan Suhu dingin ekstrim 3 Derajat, Prajurit Koops TNI Habema Amankan Senjata Kelompok Bersenjata di Gamagai

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:29 WIT

OPM Diduga Tembak Mati Empat Pekerja Proyek Jalan di Tolikara, Kodam XVII/Cenderawasih Kecam Aksi Kekerasan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:01 WIT

Lembaga Resmi PBB resmi buka kantor operasional di Papua, Gandeng Kitong Bisa Foundation

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:31 WIT

Pecahkan Rekor Nasional, Kemendes PDT Gandeng Kitong Bisa Foundation Latih dan Dampingi 1.975 Rumah Tangga di 79 Desa di Papua lewat Program TEKAD PBRT untuk Kurangi Angka Kemiskinan

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:36 WIT

Koops TNI Habema Salurkan Lebih dari Dua Ton Bantuan untuk Warga Terdampak El Nino di Kabupaten Puncak

Berita Terbaru