SUARATANAHPAPUA.COM – Atlet sepatu roda binaan Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) Papua menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Eastern Indonesia Roller Championship (EIRC) 2026 di Lapangan Karebosi, Makassar, pada 9–11 Oktober 2026. Mereka berhasil membawa pulang total 18 medali, meski sebagian perjuangan menuju kompetisi tersebut harus ditopang dengan biaya mandiri.
Prestasi ini menjadi gambaran potensi atlet sepatu roda Papua yang mampu bersaing di tingkat regional. Namun, keberhasilan tersebut sekaligus memunculkan harapan agar dukungan pendanaan dan fasilitas pembinaan dari pemangku kepentingan olahraga, termasuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Papua, semakin diperhatikan.
Sebanyak 10 atlet yang disebut dalam rombongan Papua tampil dalam kejuaraan tersebut. Mereka bersaing di berbagai nomor dan kelompok umur, mulai dari kategori pemula hingga Junior-Senior.
Di balik capaian 18 medali, persoalan pembiayaan menjadi perhatian tersendiri. Para atlet disebut harus berangkat dengan mengandalkan dana mandiri demi mengikuti kejuaraan di Makassar.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi keberlanjutan pembinaan. Sebab, prestasi atlet tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dan kedisiplinan berlatih, tetapi juga oleh ketersediaan fasilitas, kesempatan mengikuti kompetisi, serta dukungan pembiayaan yang memadai.
Atlet Kembar Sumbang Delapan Medali
Salah satu sorotan dalam EIRC 2026 adalah penampilan atlet kembar Nadila Putri Ramadhani dan Nabila Putri Ramadhani. Keduanya merupakan atlet binaan Porserosi Papua yang tampil memperkuat klub SQRL Makassar.
Nadila berhasil mengoleksi lima medali, terdiri atas satu emas pada nomor beregu Relay 1.800 meter, dua perak pada nomor 1.000 meter dan 500 meter, serta dua perunggu pada nomor ITT 200 meter dan 5.000 meter.
Sementara itu, Nabila menyumbangkan tiga medali, yakni emas pada nomor Relay 1.800 meter, perak pada ITT 200 meter, dan perunggu pada nomor 1.000 meter.
Keduanya mempersembahkan emas pada nomor estafet bersama timnya. Hasil tersebut memperlihatkan kontribusi atlet binaan Papua yang mampu berprestasi saat memperkuat klub di luar daerah asalnya.
Atlet Jayapura Inline Skate Tambah 10 Medali
Selain kontribusi Nadila dan Nabila, delapan atlet yang memperkuat klub Jayapura Inline Skate (JIS) turut menyumbangkan 10 medali, terdiri atas dua emas, dua perak, dan enam perunggu.
Farlis Putra Usulu meraih perak pada nomor 500 meter dan perunggu pada nomor relay. Mario Pongdatu menyumbangkan dua perunggu dari nomor 5.000 meter dan estafet, sedangkan Muhammad Ayub Khan turut melengkapi tim estafet peraih perunggu.
Di kategori Kelompok Umur (KU), Dzaky Azzura Maulana, Jovita Beatrix Putri Guntara, dan Giandra Azka Argatsani masing-masing turut menyumbangkan medali perunggu.
Sementara itu, pada kategori Beginner, Rengganis Dwi Melona dan Sangsaka Asian Kaamil berhasil meraih medali emas.
Capaian para atlet tersebut menjadi indikasi positif bagi regenerasi olahraga sepatu roda di Papua, terutama dalam menyiapkan atlet muda untuk menghadapi kompetisi yang lebih tinggi.
Porserosi Papua Harapkan Dukungan KONI
Ketua Umum Pengurus Provinsi Porserosi Papua periode 2025–2029, Mika Sapan, menyampaikan apresiasi kepada para atlet yang telah berjuang dan mengharumkan nama Papua dalam kejuaraan tersebut.
Menurut Mika, raihan medali di Makassar merupakan bukti komitmen pembinaan serta upaya membangun fondasi organisasi yang lebih kuat dan terarah.
Ia mengatakan Porserosi Papua akan terus berupaya menyediakan fasilitas pelatihan bagi para atlet. Namun, keberlanjutan pembinaan juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya dalam pembiayaan dan akomodasi untuk mengikuti kejuaraan.
“Dukungan finansial dan akomodasi dari induk organisasi seperti KONI sangat krusial. Jangan sampai pembinaan yang sudah berjalan baik ini terhambat hanya karena kendala biaya di masa depan,” ujar Mika.
Harapan tersebut menjadi perhatian penting bagi pengembangan olahraga sepatu roda di Papua. Keikutsertaan dalam kejuaraan bukan hanya memberikan pengalaman bertanding, tetapi juga menjadi kesempatan bagi atlet untuk mengukur kemampuan, meningkatkan prestasi, dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.
Raihan 18 medali di Makassar pun menjadi capaian yang patut diapresiasi. Namun, di balik prestasi itu, kebutuhan akan dukungan pembinaan yang berkelanjutan tetap menjadi pekerjaan rumah agar atlet Papua tidak harus terus mengandalkan kemampuan finansial sendiri untuk meraih prestasi.
Bagi para atlet, medali yang dibawa pulang bukan sekadar simbol kemenangan, melainkan hasil dari latihan, kerja keras, dan pengorbanan. Kini, dukungan nyata dari pemangku kepentingan olahraga diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi atlet sepatu roda Papua untuk berkembang dan bersaing di tingkat nasional.








