SUARATANAHPAPUA.COM – The Global Fund bersama Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan memperkuat sinergi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di masyarakat.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan On the Job Training (OJT) Peningkatan Kapasitas Guru dalam Edukasi dan Pencegahan HIV pada Remaja di Kabupaten Merauke.
Kegiatan berlangsung selama empat hari, Senin hingga Kamis, 21-24 September 2026, di Hotel Panda Merauke.
OJT tersebut dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama diperuntukkan bagi guru SMA/SMK, sedangkan gelombang kedua diikuti guru SMP.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan berbagai materi dari sejumlah narasumber, di antaranya Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Merauke, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Merauke serta RSUD Merauke.
Penyelenggara berharap para peserta OJT dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perilaku hidup sehat.
Selain itu, para guru diharapkan mampu mendorong peserta didik memperoleh pengetahuan yang benar mengenai HIV/AIDS.
Tim pengajar dari KPA Kabupaten Merauke memberikan materi mengenai kebijakan program Pencegahan dan Penanggulangan (P2P) HIV secara nasional, khususnya bagi remaja, Permenkes Nomor 23 Tahun 2022, informasi dasar mengenai infeksi menular seksual (IMS) dan HIV (Human Immunodeficiency Virus), serta kesehatan reproduksi remaja.
Materi lainnya mencakup situasi terkini HIV secara nasional maupun regional di Merauke, edukasi mengenai risiko seks dan pergaulan bebas pada remaja, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS, serta edukasi dan konseling HIV yang efektif.
Penanggung jawab Pokja Litbang KPA Kabupaten Merauke, dr. Inge Silvia, juga menyampaikan adanya rencana tindak lanjut (RTL) yang disepakati bersama sebagai langkah strategis setelah kegiatan OJT berakhir.
Selain materi mengenai HIV/AIDS, para peserta mendapatkan pembekalan terkait kesehatan mental yang disampaikan Devita Marthin dari RSUD Merauke.
Devita menyampaikan materi mengenai strategi pengembangan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang membutuhkan kerja sama dan kolaborasi berbagai pihak.
Ia juga membahas peran guru dalam mengatasi bullying serta penerapan Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) di lingkungan sekolah.
Menurut Devita, P3LP dapat dilakukan oleh seluruh warga sekolah meskipun tidak memiliki keahlian khusus di bidang kesehatan jiwa.
“P3LP itu merupakan bantuan psikologis paling dasar dan sederhana bagi orang yang mengalami luka psikologis berupa perasaan tidak nyaman dan mengganggu aktivitas keseharian akibat adanya situasi krisis atau peristiwa yang dipersepsi penuh tekanan oleh seseorang,” kata Devita.
Ia menjelaskan, pemberian P3LP secara tepat dapat membantu individu menjalani kesehariannya secara optimal sekaligus mencegah munculnya masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Devita yang juga Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Papua berharap para guru peserta OJT dapat menerapkan prinsip P3LP secara tepat di lingkungan sekolah masing-masing.
Para peserta juga mendapatkan materi mengenai kekerasan seksual dan perlindungan anak, serta kenakalan dan perilaku berisiko yang terjadi di lingkungan sekolah.
Materi tersebut disampaikan tim pengajar dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Merauke melalui studi kasus dan diskusi.
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Thamrin Hamzah, S.Hut., selaku Plt. Kasie Penetapan Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Thamrin menyampaikan dukungan terhadap penguatan kapasitas guru yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan peserta didik.
Menurutnya, perubahan karakter anak saat ini dipengaruhi berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah hingga media sosial yang semakin terbuka.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat membantu meningkatkan kompetensi guru dalam memberikan edukasi kepada seluruh warga sekolah.
“Saya yakin dan percaya setelah kegiatan ini Bapak Ibu dapat melakukan tindak lanjut yang baik. Dan saya akan melaporkan kepada Kepala Dinas agar jika memungkinkan bisa ada MoU dengan penyelenggara agar bisa dilakukan pelatihan ke sekolah lain yang belum tersentuh pelatihan seperti ini,” ujarnya.
Kegiatan OJT secara resmi ditutup pada Kamis sore, 24 September 2026, oleh Agustinus Muyak, SKM., selaku Plh. Kepala Bidang Kesmas dan P2P Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan.
Dalam sambutannya, Agustinus mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari mata rantai program yang perlu terus dibangun dan dilanjutkan.
Ia berharap ke depan dapat dilaksanakan pelatihan konselor sekolah. Rencana tersebut, kata dia, telah dibahas bersama pengelola program HIV.
Agustinus juga menyampaikan bahwa secara regulasi telah terdapat surat edaran untuk memasukkan materi kesehatan ke dalam muatan lokal di sekolah.
Menurutnya, edukasi kesehatan di sekolah diharapkan tidak hanya mencakup kesehatan reproduksi dan HIV, tetapi juga penyakit seperti TBC, kusta dan malaria.
“Harapannya edukasi tidak hanya sebatas kesehatan reproduksi dan HIV tetapi TBC, kusta dan malaria juga bisa masuk agar kita punya anak-anak bisa punya pemahaman yang baik tentang penyakit-penyakit tersebut,” kata Agustinus.
Ia juga berharap para guru yang mengikuti OJT dapat membagikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada guru serta peserta didik di sekolah masing-masing.








