SUARATANAHPAPUA.COM – Penelitian Dr. (Cand.) Gracia Josaphat Jobel Mambrasar, S.T., B.Sc., Ed.M., M.B.A., atau yang akrab disapa Billy Mambrasar, mengungkap sejumlah faktor yang mempengaruhi keuntungan Bank Papua selama 2015–2025. Penelitian ini menemukan digitalisasi dan perubahan layanan tidak otomatis membuat keuntungan bank meningkat, karena efisiensi biaya, kualitas kredit, penyaluran dana, modal, dan kondisi ekonomi Papua yang ikut mempengaruhi.
Penelitian berjudul “Transformasi Tanpa Profitabilitas? Studi Ekonometrika tentang Efisiensi Biaya, Risiko Kredit, dan Kendala Ekonomi Regional pada Bank Papua, 2015–2025” telah diterbitkan dalam Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6 No. 4, Agustus 2026, dengan DOI 10.55927/ijba.v6i4.16922.
Penelitian yang dilakukan oleh Billy yang merupakan Peneliti dan Dosen Ekonomi di Politeknik Negeri Batam ini menggunakan 44 data laporan per kuartal selama 11 tahun. Data yang digunakan berasal dari laporan keuangan Bank Papua, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Badan Pusat Statistik (BPS).
Temuan Billy menunjukkan bahwa selama 2015–2019, rata-rata tingkat keuntungan Bank Papua berada di sekitar 1,81 persen. Angka tersebut menjadi sekitar 1,73 persen pada 2020–2025, kemudian rata-rata keuntungan yang diperoleh dari modal bank berubah dari sekitar 13,28 persen menjadi 12,64 persen pada periode yang sama.
“Artinya Bank Papua tetap menghasilkan keuntungan, tetapi peningkatannya belum otomatis membuat keuntungan bank meningkat terus. Padahal, kondisi di dalam bank justru menunjukkan perbaikan, biaya operasional makin efisien dan kredit bermasalah juga membaik”, Ujar Putra Papua yang saat ini juga dipercayakan memegang posisi sebagai Komite Dewan Komisaris PT. TASPEN (BUMN).
Penelitian Billy menemukan bahwa digitalisasi belum terbukti memberikan pengaruh besar bagi peningkatan keuntungan Bank Papua. Menurut Billy, teknologi harus benar-benar membantu bank bekerja lebih efisien, memberikan layanan yang lebih baik, serta membuat penyaluran dana pada masyarakat dan dunia usaha menjadi lebih produktif, bukan sekedar modern saja.
“Digitalisasi itu penting, tetapi digitalisasi adalah alat. Supaya dampaknya terasa ke keuntungan, harus dibarengi dengan biaya yang efisien, kredit yang sehat, penyaluran dana yang produktif, modal yang kuat, dan ekonomi daerah yang terus bergerak,” ujar Billy Mambrasar yang pernah menjabat sebagai Staf Khusus Presiden RI di era Jokowi, dan kembali di lantik Prabowo jadi Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua.
Billy juga meambahkan bahwa Kinerja Bank Papua juga tidak bisa dipisahkan dari kondisi ekonomi di wilayah tempat bank tersebut beroperasi. Papua memiliki tantangan geografis dan logistik yang besar. Konektivitas, infrastruktur, pemerataan layanan keuangan, serta aktivitas dunia usaha juga ikut menentukan perkembangan ekonomi daerah.
Adapun rata-rata pertumbuhan ekonomi regional tercatat sekitar 4,22 persen pada 2015–2019 dan 3,79 persen pada 2020–2025. Menurut Billy, memperkuat Bank Papua tidak cukup hanya dilakukan dari dalam bank, harus diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi Papua agar semakin banyak kegiatan usaha yang bisa dibiayai.
“Bank Papua punya peran penting dalam ekonomi Papua. Kalau bank semakin sehat, efisien, dan produktif, dampaknya diharapkan juga semakin besar bagi masyarakat dan dunia usaha di Papua,” ujar Billy Mambrasar, yang juga diberikan kepercayaan menjadi Tenaga Ahli Investasi Badan Otorita Batam sejak Bulan April 2025.








