SUARATANAHPAPUA.COM – Grand Allison Hotel Sentani memasuki fase pengembangan baru setelah beroperasi sejak 2012. Di bawah kepemimpinan General Manager Muhammad Ambang, S.Par, manajemen hotel mulai memperkuat langkah revitalisasi, meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus menyiapkan strategi bisnis menghadapi perubahan pola dan karakter pasar.
Muhammad Ambang mengatakan, Grand Allison Hotel memiliki sejarah, pengalaman, dan potensi untuk terus berkembang sebagai salah satu pilihan akomodasi di Sentani.
Menurut dia, hotel yang telah menjadi bagian dari perkembangan kawasan Sentani selama lebih dari satu dekade tersebut perlu mendapatkan penyegaran secara bertahap, baik dari sisi fasilitas, pelayanan maupun pengalaman pelanggan atau customer experience.
“Grand Allison Hotel bukan hanya sebuah bangunan atau tempat menginap. Hotel ini telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat dan perkembangan kawasan Sentani sejak tahun 2012. Karena itu, yang kami lakukan ke depan adalah memberikan penyegaran dan improvement secara bertahap, baik dari sisi fasilitas, pelayanan, maupun customer experience,” ujar pria kelahiran Sorong itu, Sabtu (19/9/2026).
Ia menjelaskan, industri perhotelan saat ini menghadapi perubahan pola kebutuhan, karakter, dan preferensi konsumen atau yang dikenal dengan istilah market shifting. Perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku industri untuk beradaptasi dengan kondisi pasar.
Grand Allison Hotel, kata Ambang, tidak dapat hanya mengandalkan satu segmen pasar. Manajemen perlu membaca dinamika pasar dan mengembangkan berbagai potensi untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
“Kita harus lebih fleksibel dalam membaca market. Customer behavior terus berubah, sehingga strategi bisnis juga harus ikut berkembang. Kami tidak ingin hanya bergantung pada satu segment, tetapi membuka peluang dari berbagai segment agar Grand Allison tetap relevan, kompetitif, dan mampu survive secara sustainable,” jelasnya.
Sejalan dengan strategi pengembangan pasar, manajemen juga memprioritaskan revitalisasi dan pembenahan sejumlah fasilitas hotel secara bertahap.
Pembenahan tersebut mencakup area publik, kamar, fasilitas pendukung, serta berbagai aspek operasional yang berkaitan langsung dengan kenyamanan tamu.
Ambang menegaskan, revitalisasi tidak ditujukan untuk menghilangkan karakter Grand Allison Hotel yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Sebaliknya, pembenahan dilakukan untuk memberikan penyegaran sekaligus menyesuaikan fasilitas dan pelayanan dengan ekspektasi tamu serta perkembangan standar industri perhotelan.
Menurutnya, revitalisasi tidak hanya berkaitan dengan perubahan tampilan fisik hotel. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kembali standar pelayanan, memperkuat posisi hotel di tengah persaingan, serta menghadirkan pengalaman menginap yang lebih baik bagi pelanggan.
Dengan dukungan pemilik hotel, manajemen, seluruh karyawan, dan masyarakat, Grand Allison Hotel Sentani optimistis dapat terus beradaptasi menghadapi perubahan pasar dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
“Kami tidak hanya ingin bertahan, tetapi terus beradaptasi dan berkembang. Karena bagi kami, survive bukan sekadar bagaimana hotel tetap berjalan, melainkan bagaimana Grand Allison mampu memberikan pelayanan dan customer experience yang semakin baik bagi masyarakat,” pungkasnya.








