Kantor BBKSDA Papua Dipalang Warga Adat, Protes Pembakaran Mahkota Cenderawasih yang Dianggap Lukai Simbol Budaya

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 24 Oktober 2025 - 14:54 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARATANAHPAPUA.COM – Protes Pada BBKSDA Papua Terus Mengalir dan Bahkan Berujung pada Kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua di Abepura, Kota Jayapura, Jumat (24/10) pagi. Warga adat dari wilayah Tabi–Saireri memalang pintu gerbang kantor tersebut sebagai bentuk kekecewaan atas tindakan BBKSDA yang membakar mahkota burung Cenderawasih — simbol kehormatan dan identitas budaya masyarakat Papua.

Aksi ini dipimpin oleh Ismael Izaak Mebri, Ondofolo Kampung Yoka, yang juga menjadi koordinator masyarakat adat Tabi–Saireri dalam aksi pemalangan tersebut. Dalam pernyataannya kepada media, Ismael menyampaikan bahwa masyarakat adat merasa sangat terluka dan menangis ketika menyaksikan video pembakaran mahkota Cenderawasih yang beredar luas di media sosial sejak Kamis lalu.

“Mahkota Cenderawasih itu bukan sekadar benda. Itu jati diri kami, simbol kehormatan bagi Ondofolo, Ondoafi, dan para kepala suku di seluruh Tanah Papua. Saat kami melihat mahkota itu dibakar seperti sampah, hati kami hancur,” ujar Ismael dengan nada emosional di sela aksi, Jumat pagi.

Ismael menilai langkah BBKSDA Papua yang melakukan pemusnahan dengan cara dibakar pada 20 Oktober 2025 lalu sebagai tindakan tidak bijak dan tidak menghormati nilai-nilai budaya lokal. Ia menegaskan, seharusnya lembaga negara seperti BBKSDA berkoordinasi terlebih dahulu dengan tokoh-tokoh adat, Majelis Rakyat Papua (MRP), atau DPR Papua sebelum mengambil tindakan terhadap benda yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat.

“Kalau itu benar barang sitaan, mestinya bisa dimusyawarahkan dulu. Panggil kami tokoh adat, libatkan MRP atau DPR. Jangan asal bakar. Itu bukan hanya melanggar adat, tapi juga merusak kehormatan kami sebagai orang Papua,” tegasnya.

Masyarakat adat menilai mahkota Cenderawasih bukan hanya atribut kepala yang digunakan dalam upacara adat, tetapi juga simbol hubungan spiritual antara manusia dan alam, yang merepresentasikan kedamaian, keagungan, dan kebanggaan atas identitas Papua.

Baca Juga :  MARI - YO Wujudkan Papua Maju dan Harmonis

Beberapa tokoh adat yang turut hadir dalam aksi menyebutkan bahwa tindakan pembakaran tersebut memperlihatkan kurangnya pemahaman instansi pemerintah terhadap nilai-nilai kultural masyarakat adat Papua. Mereka menuntut BBKSDA untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan memberikan klarifikasi resmi kepada masyarakat.

Sementara itu, Pembakaran sejumlah BB yang diantaranya juga ada mahkota Cenderawasih dilakukan oleh pihak BBKSDA Papua sebagai bagian dari kegiatan pemusnahan barang bukti hasil sitaan satwa liar yang dilindungi, termasuk kulit, bulu, dan aksesori yang terbuat dari hewan dilindungi. Bahkan BBKSDA Akui Pembakaran diminta langsung oleh pemilik barang. Namun, tindakan tersebut justru memicu kemarahan publik setelah video dokumentasinya viral di media sosial dan menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan, terutama komunitas adat dan pemerhati budaya.

Baca Juga :  Kunjungi Pulau Gag, Warga Minta Menteri Bahlil Lanjutkan Operasional GAG Nikel

Aksi pemalangan di halaman kantor BBKSDA Papua berlangsung sejak pagi hingga siang hari, diwarnai dengan orasi dan doa adat. Warga membawa spanduk bertuliskan “Mahkota Cenderawasih Adalah Simbol Martabat Kami” dan “Hormati Nilai Budaya Papua”.

Ismael Mebri juga menegaskan bahwa pemalangan ini akan terus dilakukan hingga ada respons resmi dari pimpinan BBKSDA Papua maupun pemerintah daerah.

“Kami tidak akan membuka palang sampai ada klarifikasi dan permintaan maaf yang jelas. Ini soal harga diri orang Papua,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak BBKSDA Papua terkait aksi pemalangan maupun pernyataan masyarakat adat. Aparat kepolisian dari Polsek Abepura terlihat berjaga di lokasi untuk menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Peristiwa ini menjadi perhatian serius publik, karena menyentuh aspek penting antara pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap kearifan lokal.

Berita Terkait

Rakor Pencegahan Korupsi, Ketua KPK bersama Empat Kapolda se-Tanah Papua akan awasi Ketat Penggunaan Dana otsus
SMP Negeri 9 Merauke Gelar Sosialisasi Anti-Bullying, Psikolog Ajak Siswa Berani Melapor
Puluhan Profesor dan Dosen Universitas Negeri Jakarta bersama Billy Mambrasar, turun ke pedalaman Papua, latih 1,000 guru di daerah terpencil
Gelar Rapat Pleno, Eveerth Joumilena Dipercayakan Pimpin Sekber Wartawan Indonesia di Papua
LSM Gempur Papua Soroti Kinerja Pemkab Mamberamo Raya, Soroti Penggunaan Dana Otsus dan Krisis Listrik
Lembaga PBB gandeng Kemendes, bersama Komunitas Lokal Papua, Latih Kewirausahaan ke Ratusan Keluarga di Perkampungan
Karantina Papua Lepasliarkan Flora dan Fauna Endemik Hasil Gagalkan Penyelundupan
Kunjungi Lima Kampung di Okaba, TP PKK Merauke Perkuat Pengasuhan Anak dan Kesehatan Warga
Berita ini 27 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 15:53 WIT

Rakor Pencegahan Korupsi, Ketua KPK bersama Empat Kapolda se-Tanah Papua akan awasi Ketat Penggunaan Dana otsus

Kamis, 16 Juli 2026 - 07:05 WIT

SMP Negeri 9 Merauke Gelar Sosialisasi Anti-Bullying, Psikolog Ajak Siswa Berani Melapor

Kamis, 9 Juli 2026 - 19:09 WIT

Gelar Rapat Pleno, Eveerth Joumilena Dipercayakan Pimpin Sekber Wartawan Indonesia di Papua

Kamis, 9 Juli 2026 - 18:59 WIT

LSM Gempur Papua Soroti Kinerja Pemkab Mamberamo Raya, Soroti Penggunaan Dana Otsus dan Krisis Listrik

Kamis, 9 Juli 2026 - 18:43 WIT

Lembaga PBB gandeng Kemendes, bersama Komunitas Lokal Papua, Latih Kewirausahaan ke Ratusan Keluarga di Perkampungan

Berita Terbaru