SUARATANAHPAPUA.COM – Jayapura – Setelah mengalami kekosongan kepemimpinan selama kurang lebih 15 tahun sejak wafatnya almarhum Wempi Bilasi, Dewan Adat Mamberamo-Apawer akhirnya kembali memiliki ketua definitif. Proses reorganisasi dan konsolidasi kepengurusan dilakukan oleh Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah Adat Tabi dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung P3W GKI Papua, Padang Bulan, Kota Jayapura, Selasa (30/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan delapan suku yang mendiami kawasan Sungai Mamberamo-Apawer, yakni Suku Foau, Dasigo, Siwaya, Batero, Papasena, Tebako, Kawera, dan Bauzy.
Ketua Dewan Adat Papua Wilayah Adat Tabi, Yakonias Wabrar, mengatakan reorganisasi dilakukan untuk mengisi kekosongan kepemimpinan sekaligus memastikan masyarakat adat Mamberamo-Apawer kembali memiliki representasi dalam berbagai agenda Dewan Adat di Tanah Papua, khususnya di wilayah adat Tabi.
Menurutnya, selama bertahun-tahun Dewan Adat Mamberamo-Apawer belum memiliki kepengurusan yang aktif sehingga diperlukan konsolidasi bersama seluruh unsur masyarakat adat untuk membentuk struktur organisasi yang memiliki legitimasi.
“Melalui konsolidasi yang melibatkan perwakilan delapan suku besar, kami bersepakat memilih calon Ketua Dewan Adat Mamberamo-Apawer agar masyarakat adat kembali memiliki wadah yang sah dan kuat dalam memperjuangkan kepentingannya,” ujar Yakonias.
Dalam musyawarah tersebut, peserta secara aklamasi menetapkan Hendrik Bilasi sebagai Ketua Dewan Adat Mamberamo-Apawer. Ia akan didampingi Matias Alle sebagai Sekretaris dan Yakob Dude sebagai Bendahara.
Yakonias menjelaskan, setelah proses pengesahan selesai, Dewan Adat Papua Wilayah Adat Tabi akan menerbitkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan secara resmi. Selanjutnya, kepengurusan tersebut akan dilaporkan kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya, Gubernur Papua, serta Bupati Mamberamo Raya.
Ketua Dewan Adat Mamberamo-Apawer terpilih, Hendrik Bilasi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh seluruh kepala suku dan perwakilan masyarakat adat.
Ia mengajak seluruh masyarakat adat untuk memperkuat persatuan dalam menjaga tanah ulayat, hutan, dan seluruh sumber daya alam sebagai warisan leluhur yang harus dipertahankan untuk generasi mendatang.
“Saya mengajak seluruh masyarakat adat bergandengan tangan menjaga manusia, tanah, hutan, dan seluruh isinya dari berbagai ancaman pihak-pihak yang hanya ingin mengambil keuntungan tanpa memikirkan masa depan masyarakat adat,” tegas Hendrik.
Ia menambahkan, usai dikukuhkan, dirinya bersama jajaran pengurus akan kembali ke Mamberamo guna bertemu para tokoh adat, kepala suku, dan tetua kampung. Pertemuan tersebut bertujuan menyerap aspirasi masyarakat sekaligus mempersiapkan pelaksanaan Konferensi Masyarakat Adat Mamberamo-Apawer.
Sementara itu, tokoh masyarakat Mamberamo Raya yang juga Anggota DPR Papua, Yotam Bilasi, mengapresiasi langkah Dewan Adat Papua Wilayah Adat Tabi yang berhasil memfasilitasi proses konsolidasi hingga terbentuk kepengurusan baru Dewan Adat Mamberamo-Apawer.
Ia berharap seluruh kepala suku dan tokoh adat dapat mengesampingkan perbedaan pandangan yang selama ini terjadi dan bersama-sama memperjuangkan kepentingan masyarakat adat, terutama dalam menjaga tanah ulayat dan hutan dari ancaman eksploitasi.
“Kita jangan lagi terpecah karena persoalan yang tidak membawa manfaat bagi anak cucu kita. Yang terpenting sekarang adalah bersatu menjaga tanah adat dan hutan kita agar tetap lestari serta tidak mengalami kerusakan seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia,” tutup Yotam.








