
Penulis: Devita Marthin, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Ketua IPK Indonesia Wilayah Papua; Psikolog Klinis RSUD Merauke).
Kejadian bunuh diri hingga kini masih sering kita jumpai di sekitar kita. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bunuh diri merupakan salah satu penyebab kematian yang signifikan di seluruh dunia yang umumnya terjadi pada individu usia muda atau usia produktif.
Diperkirakan setiap tahunnya ada sekitar 720.000 orang yang meninggal karena bunuh diri di seluruh dunia dengan angka kematian 1 orang setiap 40 detik. Untuk setiap kasus bunuh diri yang terjadi, setidaknya ada 7 hingga 10 orang yang terdampak.
Hal ini dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa setiap angka kejadian bunuh diri mewakili seseorang dan komunitas yang terdampak. Dampaknya pun tentu saja cukup luas dan berat bagi kehidupan keluarga, teman dan komunitas secara umum sehingga sangat diperlukan upaya pencegahan serta dukungan yang memadai di masyarakat.
Bagi sekelopok orang, upaya pencegahan bunuh diri mungkin dianggap hanya merupakan tugas dan tanggung jawab pihak tertentu saja, serta membahas tentang isu bunuh diri dianggap tabu atau penuh stigma negatif. Selain itu, masih minimnya kesadaran akan pentingnya upaya pencegahan bunuh diri sebagai salah satu masalah kesehatan yang cukup serius di masyarakat.
Akibatnya mereka yang sedang berjuang dengan ide bunuh diri menjadi sulit untuk mendapatkan bantuan yang tempat dan memadai karena terkendala stigma negatif yang begitu kuat di masyarakat dan minumnya ketersediaan layanan bantuan yang memadai.
Pada peringatan hari pencegahan bunuh diri sedunia yang diperingati setiap tahun di tanggal 10 September, mari bersama-sama kita merefleksikan sejauh mana peran kita di komunitas dan masyarakat untuk ikut mencegah terjadinya kasus bunuh diri.
Setiap kita, siapapun itu, apa pun latar belakangnya tentu bisa memberikan peran positif dalam upaya pencegahan bunuh diri di masyarakat. Hal ini bisa dimulai dari merubah narasi tentang bunuh diri yang sejalan dengan tema global dari peringatan hari pencegahan bunuh diri sedunia. Dengan merubah narasi tentang bunuh diri, diharapkan dapat merubah cara pandang kita tentang masalah ini dari yang tadinya penuh stigma negatif ke cara pandang yang lebih terbuka, penuh pengertian dan empati. Harapannya setiap mereka yang sedang berjuang dengan ide bunuh diri dapat merasa lebih dimengerti, didukung, dihargai, didengarkan tanpa dihakimi dan terhubung dengan orang-orang di sekitarnya.
Melalui peringatan hari pencegahan bunuh diri sedunia juga diharapkan agar dapat semakin mengingatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya menjadi bagian dari harapan untuk mereka yang tengah berjuang dengan ide bunuh diri. Jika bantuan yang diberikan terasa belum memadai bagi mereka yang memiliki ide bunuh diri, maka dapat diarahkan pada tenaga professional atau dapat mengakses layanan hotline pencegahan bunuh diri dari Kementerian Kesehatan yang bekerja sama dengan IPK Indonesia melalui “Healing 119.id”.








