SUARATANAHPAPUA.COM – Melisa Tabo Dukung Gagasan HIPMI 8% untuk Perkuat Ekonomi Nasional.

Sekretaris Umum BPD HIPMI Papua Pegunungan yang juga Anggota DPR Papua Pegunungan, Melisa Tabo, menyatakan dukungannya terhadap gagasan “HIPMI 8%” yang diusung William Heindrich dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2026–2029.
Menurut Melisa, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pemerintah semata. Diperlukan kontribusi nyata dari sektor swasta, khususnya para pengusaha, sebagai motor penggerak ekonomi.
“Pengalaman negara-negara maju seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Singapura menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi sangat ditopang oleh produktivitas dan daya saing para entrepreneur,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya penguatan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha melalui pendekatan Government-to-Business (G2B). Sinergi yang terbangun dinilai mampu melahirkan kebijakan yang lebih implementatif sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebagai negara berkembang, Indonesia juga dituntut untuk adaptif terhadap dinamika global, termasuk keterbukaan informasi dan percepatan transformasi berbasis teknologi.
Dalam konteks tersebut, Melisa menilai konsep HIPMI 8% yang diusung William Heindrich menjadi langkah strategis. Gagasan ini menempatkan teknologi dan inovasi sebagai instrumen utama dalam mencetak sedikitnya 10.000 pengusaha muda baru di seluruh Indonesia.
“Ini bukan sekadar target angka, tetapi langkah konkret untuk memperkuat struktur ekonomi nasional,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut konsep HIPMI 8% juga berpotensi memberikan dampak luas, mulai dari peningkatan pendapatan negara melalui perluasan basis pajak hingga penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Melisa menilai, dengan latar belakang, kapasitas, serta visi yang dimiliki, William Heindrich merupakan figur yang layak memimpin HIPMI ke arah yang lebih progresif.
“Kehadirannya sebagai putra Kaimana dari Tanah Papua menunjukkan bahwa kontribusi daerah terhadap pembangunan ekonomi nasional semakin nyata dan strategis,” tambahnya.
Ia pun menegaskan bahwa HIPMI membutuhkan energi baru untuk menghadapi tantangan ke depan. Menurutnya, gagasan HIPMI 8% menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.








