SUARATANAHPAPUA.COM – Perselisihan terkait unggahan informasi hoaks mengenai kabar meninggalnya Bupati Yalimo, DR. Nahor Nekwek, S.Pd., M.M., yang dipublikasikan melalui akun Facebook Yalihe_Walihe, resmi diselesaikan secara damai di Direktorat Siber Polda Papua, Jumat (28/11/2025).
Pemilik akun, Musa Weipsa, hadir langsung memberikan klarifikasi atas unggahan yang sempat memicu keresahan publik tersebut.
Akun Dilaporkan Setelah Picu Kebingungan Publik
Sebelumnya, Bupati Nahor Nekwek melaporkan akun media sosial tersebut setelah muncul unggahan yang menyatakan dirinya meninggal dunia. Informasi palsu itu menimbulkan kebingungan serta beragam reaksi dari masyarakat Yalimo, sehingga perlu ditindaklanjuti oleh aparat.
Proses klarifikasi berlangsung di Direktorat Siber Polda Papua dengan kehadiran kedua pihak dan menghasilkan penyelesaian melalui pendekatan kekeluargaan.
Akun Diduga Disalahgunakan
Dalam keterangannya, Musa Weipsa menyatakan bahwa akun Facebook miliknya sudah tidak ia gunakan sejak Februari 2025. Ia menduga akun tersebut disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Saya ingin mengklarifikasi bahwa akun Facebook saya tidak digunakan sejak Februari 2025. Saya sudah datang ke Direktorat Siber Polda Papua untuk memberikan keterangan. Saya juga meminta maaf sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Yalimo, keluarga, dan masyarakat di semua distrik,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial serta tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.
Bupati Yalimo Apresiasi Penyelesaian Kekeluargaan
Bupati Yalimo, DR. Nahor Nekwek, menyampaikan apresiasi atas respons cepat aparat dan penyelesaian damai yang ditempuh.
“Permasalahan ini sudah selesai secara baik dan kekeluargaan. Semoga menjadi pelajaran agar kita semua semakin dewasa dalam menggunakan media sosial,” tuturnya.
Penguatan Edukasi Digital di Yalimo
Penyelesaian damai ini dinilai sebagai langkah positif untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan masyarakat. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya literasi digital di tengah maraknya penyebaran informasi palsu di media sosial.








