đź’” Duka Mendalam Paulus Waterpauw: Kehilangan Sosok yang Menemani Sejak Awal Karier
Jayapura, Langit Jayapura tampak muram, seolah ikut berduka. Komjen (Pol) Purn. Paulus Waterpauw, M.Si, mantan Kabaintelkam Polri yang juga dikenal sebagai salah satu putra terbaik Papua, tengah diselimuti kesedihan mendalam.
Sosok yang selama puluhan tahun menjadi panutan dan penopang spiritualnya, Pendeta Hengky Raubaba, berpulang ke hadirat Tuhan pada Senin, 6 Oktober 2025.
Paulus Waterpauw kehilangan lebih dari sekadar seorang rohaniawan. Pdt. Hengky Raubaba adalah figur penting dalam perjalanan hidup dan karier sang jenderal.
Hubungan keduanya begitu erat—seperti ayah dan anak.
Sejak pertama kali Paulus lulus dari Akademi Kepolisian pada tahun 1987, Pdt. Hengky selalu hadir di setiap langkah pengabdian, dari pangkat Letnan Dua hingga akhirnya pensiun sebagai perwira tinggi Polri dan menjabat Penjabat Gubernur Papua Barat.
“Beliau bukan hanya gembala rohani, tapi juga bagian dari keluarga. Saya kehilangan sosok yang selalu meneguhkan saya dalam setiap keputusan hidup,” ujar Paulus dengan nada lirih di sela prosesi pemakaman.
Kepergian Pdt. Hengky meninggalkan ruang hampa dalam hati banyak orang, terutama bagi mereka yang pernah merasakan pelayanan dan kasihnya.
Paulus Waterpauw bahkan meninggalkan kesibukannya untuk terbang langsung ke Jayapura, menghadiri prosesi pemakaman yang digelar Selasa, 7 Oktober 2025.
Pdt. Hengky menghembuskan napas terakhir di RSUD Ramaela, Distrik Muara Tami, Koya Tengah. Jenazahnya kemudian disemayamkan di Gereja Menara Doa, tempat ia selama ini menggembalakan umat dengan penuh kasih dan kesetiaan.
Tangis haru mewarnai prosesi perpisahan. Banyak jemaat, sahabat, dan tokoh masyarakat hadir memberi penghormatan terakhir kepada sang pendeta yang dikenal rendah hati dan setia melayani tanpa pamrih.
“Beliau telah selesai dengan baik. Ia telah menempuh pertandingan iman yang indah,” ujar salah satu pelayat yang juga tak kuasa menahan air mata.
Kini, sang gembala telah pulang.
Dan di tengah duka yang mendalam, Paulus Waterpauw berdiri tegak, menatap peti jenazah dengan tatapan yang menyiratkan rasa kehilangan—namun juga penuh rasa syukur atas setiap jejak hidup dan teladan iman yang ditinggalkan.








