OLEH:
Letkol CPN (Purn) Athenius Murip, S.H., M.H.
(Bupati Jayawijaya, periode 2025–2030 & Dandim 1702/Jayawijaya Rem 172 PWY Kodam XVII/Cenderawasih, 2022–2025)
Dalam rangka memperingati 80 Tahun usia Bapak Dr. (HC) Barnabas Suebu, S.H., izinkan saya menyampaikan hormat, penghargaan, dan kesaksian pribadi atas perjalanan hidup seorang putra terbaik Papua yang telah mengabdikan diri bagi daerah, bangsa, dan negara.
Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, nama Bapa Bas sudah dikenal luas sebagai tokoh besar Papua. Beliau adalah Gubernur orang asli Papua pertama yang memiliki pendidikan tinggi dan kapasitas kepemimpinan yang diakui secara nasional, bahkan hingga tingkat internasional. Beliau dua kali dipercaya memimpin tanah ini: sebagai Gubernur Irian Jaya periode 1988–1993 dan kembali sebagai Gubernur Papua periode 2006–2011. Beliau hadir memimpin dalam dua zaman berbeda: Era Orde Baru dan Era Reformasi. Itu menunjukkan bahwa kapasitas, integritas, dan kualitas kepemimpinan beliau mampu menjawab tantangan zaman.
Bapa Barnabas Suebu adalah tokoh Papua terkemuka dengan pemikiran yang jauh ke depan. Gagasan dan pemikiran beliau sangat luar biasa, visioner, dan sering kali berada di atas rata-rata zamannya. Karena itu negara berkali-kali mempercayakan jabatan penting kepada beliau. Di antaranya, beliau tercatat sebagai orang asli Papua pertama yang dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Meksiko yang juga membawahi Honduras dan Panama pada periode 1999–2002. Sebelumnya, beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua pertama DPD KNPI Irian Jaya, Ketua Umum Kadin Irian Jaya, Ketua DPRD Irian Jaya, Penasihat Menteri Riset dan Teknologi, anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, serta anggota MPR RI. Jejak pengabdian tersebut menunjukkan bahwa Bapa Bas bukan hanya milik Papua, tetapi juga aset berharga bangsa Indonesia.
Setelah sekian lama mengabdi di tingkat nasional dan internasional, masyarakat Papua memanggil beliau untuk pulang kampung. Dan dalam pemilihan gubernur langsung pertama, rakyat memberikan kepercayaan kepada beliau untuk memimpin Papua periode 2006–2011. Itu adalah bentuk cinta dan keyakinan rakyat kepada seorang pemimpin yang telah teruji dan terbukti.
Dalam perjalanan hidupnya, beliau juga menghadapi masa-masa sulit. Di tengah dinamika politik yang keras, Bapa Bas harus menjalani proses hukum dan merasakan kehidupan di balik penjara. Namun justru di situlah saya melihat karya Tuhan yang luar biasa. Saya dua kali mengunjungi beliau di Suka Miskin, termasuk menjelang beliau bebas. Saya menyaksikan sendiri bahwa pribadi Bapa Bas dibentuk menjadi semakin bijaksana, semakin tenang, dan semakin rendah hati. Ada kedalaman hidup yang lahir dari proses pergumulan dan penderitaan.
Di sisi lain, kita juga menyadari bahwa sebagian pemimpin orang Papua, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, telah lebih dahulu dipanggil Tuhan. Karena itu, kehadiran Bapa Bas di usia 80 tahun menjadi berkat tersendiri bagi Tanah Papua. Beliau masih bersama kita, masih dapat dilihat, didengar, dan dijadikan sumber pembelajaran bagi generasi hari ini.
Karena itu, saya mengajak agar para pejabat dan pemimpin di Tanah Papua banyak belajar dari beliau. Kita patut menghadirkan Bapa Bas sebagai sumber inspirasi, agar beliau dapat membagikan pengalaman tentang kepemimpinan, tentang melihat Papua dahulu dan hari ini, tentang jatuh bangun kehidupan, bahkan tentang bagaimana Tuhan membentuk manusia melalui proses yang berat. Pengalaman hidup seperti itu adalah warisan berharga bagi pemimpin masa kini dan generasi penerus di Tanah Papua.
Di usia ke-80 tahun ini, Bapa Bas Suebu adalah saksi hidup bahwa Tuhan memelihara orang-orang pilihan-Nya. Selamat ulang tahun ke-80 Bapa Bas. Panjang umur dalam berkat, sehat dalam sukacita, dan terus menjadi pelita hikmat bagi Papua dan Indonesia.








