SUARATANAHPAPUA.COM : MANOKWARI – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO). Upaya tersebut dilakukan melalui Workshop Konseling TBC-RO bagi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang berlangsung di Manokwari, 21–23 Oktober 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan kebutuhan dukungan sosial pasien TBC-RO.
Workshop menghadirkan dua fasilitator, yakni Devita Marie A. Marthin, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari IPK Indonesia Wilayah Papua dan dr. Feytie Mgada Mawey, Sp.KJ dari RSUD Provinsi Papua Barat.
Peserta yang berasal dari sejumlah puskesmas dan rumah sakit di wilayah Papua Barat mendapatkan materi mengenai teknik konseling dan dukungan psikososial. Materi tersebut kemudian diperdalam melalui diskusi dan simulasi atau roleplay agar peserta dapat memahami sekaligus mempraktikkan teknik konseling dalam pelayanan kepada pasien.
Workshop resmi ditutup pada Jumat, 23 Oktober 2026, oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr. Alwan Rimosan, Sp.B., FINACS.
Dalam sambutannya, Alwan menegaskan bahwa kemampuan konseling menjadi bagian penting dalam mendukung proses penyembuhan pasien TBC-RO. Menurutnya, tenaga kesehatan perlu memahami bahwa pasien tidak hanya membutuhkan pengobatan medis, tetapi juga perhatian dan dukungan psikologis.
“Obat itu menyembuhkan raga, tetapi konseling menyembuhkan jiwa. Jadi, pasien TBC-RO butuh didengarkan, dipahami, dan dihargai tanpa harus dikasihani,” ujar Alwan.
Ia berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dan menjadi penggerak peningkatan kualitas pelayanan di masing-masing puskesmas maupun rumah sakit.
Alwan juga menekankan pentingnya komunikasi yang ramah kepada pasien serta memberikan keyakinan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk sembuh.
“Kita harus berkomunikasi dengan ramah kepada pasien. Kedua, memberikan dukungan bahwa mereka juga bisa sembuh. Kita bersama-sama dengan teman-teman puskesmas, kepala puskesmas, dan penanggung jawab program agar bisa mengeliminasi AIDS, TBC, malaria, dan kusta, terutama TBC-RO,” katanya.
Sementara itu, fasilitator Devita Marie A. Marthin menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat atas kesempatan berbagi pengetahuan mengenai konseling dan dukungan psikososial bagi pasien TBC-RO.
Ia berharap materi yang diberikan dapat diterapkan oleh para tenaga kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan masing-masing.
Menurut Devita, peserta juga telah dibekali pemahaman mengenai pentingnya dukungan psikososial serta deteksi dini terhadap permasalahan psikologis yang berpotensi dialami pasien TBC-RO.
Dengan kemampuan tersebut, tenaga kesehatan diharapkan dapat mengenali kebutuhan pasien lebih awal sehingga mereka bisa memperoleh penanganan yang komprehensif.
Melalui workshop ini, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat berharap pendekatan pelayanan pasien TBC-RO semakin optimal, dengan mengintegrasikan pengobatan medis, konseling, dan dukungan psikososial sebagai bagian dari upaya meningkatkan keberhasilan pengobatan.









