Empat Pejabat PNG Ditahan di Jayapura, Langka Praperadilan Kuasa Hukum Didukung Konsulat

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 19 Juli 2025 - 10:33 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARATANAHPAPUA.COM – Kuasa Hukum empat pejabat kesehatan Papua Nugini (PNG), Dr. Anthon Raharusun, bertemu langsung dengan Konsul Jenderal PNG untuk Papua, Geoffrey L. Win MDS (Col), guna membahas strategi hukum atas penahanan warganya oleh Imigrasi Jayapura.

Pertemuan itu berlangsung pada hari Jumat, 4 Juli 2025 di kantor konsultan jenderal dimana pihaknya bertemu langsung dengan Conjen dan Consulat Mr. Lion dan disamping Staf Konsul Ibu Martha dan Protokoler Consul Yoppy Manufandu. Pertemuan itu salah satunya membahas dugaan pelanggaran prosedur dalam penangkapan Adrian Lohumbo (CEO West Sepik Provincial Health Authority), Nimbaken Tibli (Finance Officer), Amstrong Kupe (Perawat), dan Melchior Nemo (Petugas Kamar Jenazah).

“Konsulat PNG menyampaikan dukungan penuh dan berterima kasih atas upaya pembelaan hukum terhadap empat warganya,” ujar Raharusun kepada wartawan media ini pada sabtu 19 juli 2025


Diundang Resmi, Malah Ditetapkan Tersangka

Keempat pejabat PNG itu berada di Jayapura atas undangan resmi Kepala RS Bhayangkara Jayapura untuk membahas kerja sama kesehatan lintas negara. Namun, mereka justru ditangkap paksa, ditahan, dan ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak Imigrasi.

Baca Juga :  Supriadi Laling Maju Sebagai Calon Ketum HIPMI Papua: Siap Kolaborasi Untuk Papua

Dalam sidang praperadilan di PN Jayapura, tim kuasa hukum menyebut proses hukum tersebut cacat formil, melanggar KUHAP, dan mencederai prinsip hak asasi manusia.

“Mereka dijerat pidana tanpa didampingi pengacara, tidak diberi surat penahanan, dan tidak diberi akses ke Konsulat PNG. Ini bentuk pelanggaran serius terhadap KUHAP,” tegas Raharusun.


Gugat Imigrasi & Kejaksaan Rp3,5 Miliar

Dalam permohonan praperadilan, para pemohon juga mengungkap dugaan pemerasan saat penggeledahan. Salah satu dari mereka mengaku kehilangan uang tunai 1.900 Kina dan Rp500 ribu, serta dipaksa membayar denda 80.000 Kina tanpa dasar hukum.

Gugatan mereka mencakup:

  • Ganti rugi materiil: Rp1 miliar
  • Ganti rugi immateriil: Rp2,5 miliar
  • Rehabilitasi nama baik sebagai pejabat publik negara asing

Proses Hukum Dinilai Prematur & Tidak Proporsional

Keempat pejabat PNG dijerat Pasal 113 dan 119 UU No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Namun menurut Raharusun, proses penetapan tersangka tidak sesuai KUHAP, karena tidak melibatkan penasihat hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 56 KUHAP.

Lebih parah lagi, Konsulat PNG tidak pernah diberi pemberitahuan resmi, yang seharusnya diatur dalam Pasal 18 dan 21 KUHAP saat menyangkut warga negara asing.

Baca Juga :  MARIYO Bungkus Suara di Distrik Abepura, Tanda Kemenangan Makin Nyata

Masuk Lewat Jalur Resmi, Tapi Dituduh Ilegal

Pemberitaan sebelumnya menyebut keempat WNA PNG masuk melalui “jalur tikus”, namun bantahan keras disampaikan oleh tim hukum.

“Klien kami masuk secara sah lewat Pos Lintas Batas RI–PNG dengan kendaraan sewaan. Tuduhan masuk ilegal itu tidak berdasar,” tegas Raharusun.

Ia juga mengkritik pemberitaan media yang dinilai menyudutkan kliennya.

“Ini trial by the press. Belum ada vonis pengadilan, tapi mereka sudah dihakimi publik. Ini mencederai asas praduga tak bersalah.”


Tuntutan dalam Praperadilan

Dalam petitumnya, pemohon meminta majelis hakim PN Jayapura untuk:

  1. Menyatakan penetapan tersangka, penangkapan, dan penahanan tidak sah secara hukum
  2. Memerintahkan pembebasan segera dari Rutan Abepura
  3. Menyatakan proses penyidikan batal demi hukum
  4. Memerintahkan rehabilitasi nama baik dan ganti rugi oleh penyidik dan jaksa

Kasus ini menyita perhatian luas karena menyangkut perlakuan aparat terhadap pejabat resmi negara tetangga, yang sejatinya tengah menjalankan misi kerja sama antarnegara.

Berita Terkait

Tim URC Polres Jayapura Temukan Motor Hasil Curanmor di Sentani, Siap Dikembalikan kepada Pemilik
Billy Mambrasar Kritik Kepala Bakom RI Atas Lemahnya Komunikasi Pemerintah Terkait Isu Papua
SKKK Jayapura Buka PMB 2027/2028, Ada Promo Super Early Bird hingga 11 November
Indografika Jayapura Hadirkan Kalender Custom 2027, Bikin Brand Dikenang Sepanjang Tahun
Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz dan Polres Puncak Selidiki Penikaman ASN di Ilaga, Dugaan Motif Balas Dendam Didalami
1.000 Anak Muda Sorong Bergemuruh! Pesan Presiden BRICS Youth Forum Ini Jadi Sorotan
SENTUH SISI KEMANUSIAAN, SATGAS DAMAI CARTENZ BERBAGI DENGAN ANAK PANTI ASUHAN DI JAYAPURA
PAPEDA DI KEEROM TEKANKAN DUKUNGAN KELUARGA BAGI MAMA MENYUSUI: “KETIKA BIKINNYA BERDUA, MAKA URUSNYA BERDUA”
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 18:12 WIT

Tim URC Polres Jayapura Temukan Motor Hasil Curanmor di Sentani, Siap Dikembalikan kepada Pemilik

Kamis, 5 November 2026 - 18:11 WIT

Billy Mambrasar Kritik Kepala Bakom RI Atas Lemahnya Komunikasi Pemerintah Terkait Isu Papua

Rabu, 4 November 2026 - 09:24 WIT

SKKK Jayapura Buka PMB 2027/2028, Ada Promo Super Early Bird hingga 11 November

Selasa, 3 November 2026 - 10:50 WIT

Indografika Jayapura Hadirkan Kalender Custom 2027, Bikin Brand Dikenang Sepanjang Tahun

Senin, 2 November 2026 - 11:58 WIT

Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz dan Polres Puncak Selidiki Penikaman ASN di Ilaga, Dugaan Motif Balas Dendam Didalami

Berita Terbaru