SUARATANAHPAPUA.COM – Tepat 171 tahun sejak Injil pertama kali tiba di Pulau Mansinam, gema lonceng iman kembali terdengar di Tanah Papua. Namun tahun ini, refleksi datang dari salah satu tokoh Papua yang juga Anggota Komite Eksekutif Papua Komjen Pol (Purn) Drs. Paulus Waterpauw, M.Si.
Dalam Webinar zoom Hari Injil Masuk Papua bertajuk Hari Injil Masuk Papua yang diinisiasi oleh Analisis Papua Strategis (APS) digelar pada 4 Februari 2026, oleh Laus D.C. Rumayom, Menghadirkan Pastor dari Amerika Serikat Pastor Yohanes Arwakon, dan Pdt. Daniel Sukan, S.Th., M.Th., selaku Ketua Umum Persekutuan Gereja – Gereja Papua (PGGP) di Papua Barat yang hadir dan juga membuka Seminar, Dimana Refleksi ini menyoroti urgensi menghidupkan kembali nilai Injil dalam konteks pembangunan manusia dan ekonomi Papua masa kini.
Waterpauw dalam peringatan bersejarah itu, menyatakan bahwa Injil bukan sekadar kisah Rohani iman, melainkan pijakan menuju masa depan masyarakat Papua yang mandiri secara ekonomi dan tentunya berdaya saing.
Paulus Waterpauw menegaskan bahwa perayaan injil masuk 5 Februari tidak seharusnya berhenti pada ritual tahunan, tetapi harus menjadi momentum kebangkitan sosial dan ekonomi umat. “Selama ini kita hanya memperingati dengan ibadah dan tarian, tapi belum ada dampak signifikan bagi masyarakat. Setelah seremonial dan ibadah selesai, yang bekerja , kembali bekerja dan melanjutkan pekerjaan tapi setelah itu, mau kerja apa, dan mau makan apa ? Ini Harus ada perubahan nyata,” tegasnya.
Mansinam: Dari Pulau Misi Menjadi Pusat Pembinaan
Waterpauw mengingatkan kembali kisah awal pada 5 Februari 1855, ketika dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, mendarat di Pulau Mansinam, Manokwari. Bagi umat Kristiani itu menjadi tonggak lahirnya cahaya Injil yang menembus kegelapan keterasingan.
Namun, menurut Waterpauw, cahaya itu kini harus diterjemahkan dalam bentuk nyata: dengan pendidikan, pelatihan, dan kemandirian ekonomi.
“Pulau Mansinam itu menjadi tempat ziarah rohani. Tetapi selain ziarah Harus juga jadi wadah mencetak kader manusia Papua. Pemerintah bisa siapkan Balai Latihan Kerja (BLK), datangkan pelatih-pelatih, dan instruktur untuk melatih anak muda dan siapa saja agar menjadi pengusaha baru dan Skill tenaga kerja mumpuni yang mampu bersaing, Supaya ada perubahan dari hari ke hari,” ujarnya.
Paulus Waterpauw juga menyarankan ke Pemerintah daerah dan Gereja agar Lokasi Ziarah rohani Pulau Mansinam ini digunakan juga untuk peningkatan ekonomi lokal, bahkan Ia mencontohkan bagaimana di berbagai tempat suci dunia — seperti Yerusalem dan Roma — aktivitas ziarah mampu mendorong ekonomi masyarakat lokal melalui wisata rohani, penjualan produk budaya, dan industri kreatif berbasis nilai iman.
“Pulau Mansinam bisa belajar dari sana. Saat orang datang berziarah, muncullah nilai ekonomi — penjualan hasil lokal, cenderamata, kuliner, bahkan ekspor kecil. Semua itu lahir dari semangat iman yang hidup,” lanjutnya.
“Yang utama adalah bagaimana iman itu melahirkan perubahan hidup, memberi pekerjaan, membentuk karakter, dan menciptakan kemandirian ekonomi terutama lokal,” katanya menegaskan.
Menurutnya, Injil tidak pernah berhenti pada simbol — melainkan pada transformasi hidup. Karena itu, gereja dan pemerintah daerah perlu berjalan seiring, menjadikan iman sebagai fondasi kebijakan dan arah pembangunan manusia Papua.
Dari tempat Sejarah Iman, Menuju Gerakan Ekonomi Umat
Bagi Waterpauw, semangat Injil yang datang ke Tanah Papua 171 tahun lalu adalah panggilan untuk membangun masa depan yang berdikari.
“Sejarah iman ini harus menjadi pijakan untuk kehidupan bersama. Dari iman lahir karya. Dari karya tumbuh kemandirian. Itulah esensi Injil bagi Papua hari ini,” tutupnya dengan penuh keyakinan.
Refleksi ini menjadi pesan kuat bahwa pekabaran Injil tidak berhenti di Pulau Mansinam — ia harus menjelma dalam tindakan nyata di setiap kampung, gereja, dan rumah tangga di seluruh tanah Papua. Bahwa Injil bukan sekadar berita keselamatan, melainkan juga kekuatan untuk membangun manusia, mengangkat martabat, dan menumbuhkan harapan di Tanah Papua yang diberkati.








