“Perjuangan Terakhir Bang Ojol: Ketika Rezeki Tak Lagi Menghampiri”

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 29 Agustus 2025 - 23:36 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Senja Terakhir Bang Ojol

Affan Kurniawan baru saja selesai menunaikan salat Ashar ketika ibunya memanggil dari dapur.
“Fan, makan dulu nak. Jangan buru-buru keluar.”
Suara itu lembut, tapi penuh kasih sayang yang selalu membuat dada Affan terasa hangat. Ia menoleh, tersenyum.
“Nanti ya, Bu. Affan cuma sebentar keluar. Ada orderan dekat-dekat sini.”

Ibunya mengangguk, meski hatinya sedikit gamang. Ia tahu, anak bungsunya itu kerap memaksakan diri. Baru 21 tahun, tapi pundaknya sudah menanggung beban hidup seakan dunia menuntutnya jadi lelaki dewasa lebih cepat. Sejak ayahnya pergi untuk selamanya, Affanlah yang sering menjadi tulang punggung keluarga.

Dengan jaket ojolnya yang sudah pudar warna hijau, ia turun dari rumah kontrakan sederhana di Jatipulo. Senja itu, langit Jakarta berwarna jingga bercampur debu. Jalanan ramai, riuh, seperti menyimpan rahasia besar. Affan tak tahu, sore itu adalah perjumpaan terakhirnya dengan cahaya mentari.

Motor tuanya meraung pelan, menembus jalanan yang mulai padat. Dari kejauhan, ia mendengar suara massa. Teriakan-teriakan keras di sekitar Gedung DPR/MPR. Affan bukan demonstran, ia hanya pengantar rezeki. Tapi Jakarta sedang gelisah. Jalan yang biasanya jadi jalur kerja, kini beralih jadi panggung amarah.

Baca Juga :  KNMP Insumbrei Supiori Dorong Penguatan Rantai Perikanan dan Akses Pasar Nelayan

“Lewat mana, ya Allah,” gumamnya pelan, sembari memelankan laju motor.

Ia hendak menyeberang jalan, mencari jalur alternatif. Namun aspal licin, penuh sisa air dan kerikil. Ban motornya oleng. Dalam sekejap, tubuh Affan terpelanting, jatuh di tengah riuh. Ia berusaha bangkit, lututnya luka, napasnya terengah.

Lalu, deru mesin raksasa itu datang, rantis Brimob, seukuran raksasa besi, melaju tanpa kompromi. Orang-orang berteriak.
“Ada ojol di bawah! Ada orang jatuh! Berhenti!”
Suara-suara itu melolong menembus udara, tapi tak ada rem yang ditarik.

Affan melihat bayangan hitam besar itu mendekat. Waktu serasa berhenti. Ia teringat wajah ibunya di dapur, teringat pesan belum sempat dijawab di ponselnya, teringat mimpi sederhana, ingin membelikan kursi roda untuk nenek yang tak bisa berjalan jauh. Air matanya menetes, bercampur debu jalanan.

“Ya Allah, jaga Ibu…” bisiknya pelan.

Detik berikutnya, deru roda baja menutup pandangan. Tubuh muda itu tak sempat beranjak. Hanya jeritan massa yang menggema, membelah langit Jakarta malam itu.

Rekan-rekan ojol berlari, mengangkat tubuhnya yang tak lagi kuat melawan takdir. Mereka bergegas ke rumah sakit terdekat, berharap ada mukjizat. Tapi di lorong dingin rumah sakit, napas Affan berhenti. Senyumnya membeku, meninggalkan kesunyian panjang.

Baca Juga :  Bawa Ganja Di Pelabuhan Jayapura, 2 Pemuda Diamankan Polisi

Di rumah duka, ibunya menunggu. Tatapannya kosong ketika kain putih menutupi wajah anak yang semalam masih berpamitan. Tangis pecah, deras, seperti hujan deras yang tak kunjung reda. “Fan, kau belum sempat makan… Kau belum sempat pulang,” isaknya, memeluk tubuh kaku itu.

Para sahabat ojol berdiri dengan mata sembab. Mereka bukan hanya kehilangan kawan, tapi juga cermin perjuangan, seorang anak muda sederhana yang hanya ingin bekerja, namun justru pulang sebagai pahlawan tak bernama.

Jakarta malam itu terasa lebih dingin. Asap demo masih mengepul, lampu jalan masih menyala, tapi satu cahaya padam untuk selamanya. Nama Affan Kurniawan tinggal kenangan, tapi luka yang ia tinggalkan akan terus hidup di dada mereka yang mencintainya.

Mungkin, di langit, ia kini sedang mengantar pesanan terakhirnya, sebuah doa, agar ibunya tetap kuat, dan negeri ini tak lagi memakan anak-anaknya sendiri.

Berita Terkait

KNMP TANJUNG KASUARI PERKUAT INFRASTRUKTUR PERIKANAN, AKSES EKSPOR NELAYAN JADI PERHATIAN
*KNMP Kota Sorong Perkuat Rantai Dingin, Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal*
1.370 Kapal Fiber KNMP Diproduksi di Manokwari, Buka Peluang Kerja bagi Putra Papua
Satgas Damai Cartenz Tangkap DPO Penganiayaan Berat di Puncak jaya, Dugaan Keterkaitan Jaringan Senjata dan Amunisi Didalami
KNMP Wamargege Didorong Perkuat Ekonomi Nelayan dan Potensi Udang Banana Sorong Selatan
Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Papua, Kodam Cenderawasih Perkuat Penanganan Karhutla
Pria 58 Tahun Ditemukan Meninggal di Entrop Jayapura, Polisi Lakukan Penyelidikan
Lindungi Hak Masyarakat, Kementerian ATR/BPN Selesaikan 3.018 Kasus Pertanahan
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 14:28 WIT

KNMP TANJUNG KASUARI PERKUAT INFRASTRUKTUR PERIKANAN, AKSES EKSPOR NELAYAN JADI PERHATIAN

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:20 WIT

*KNMP Kota Sorong Perkuat Rantai Dingin, Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal*

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:15 WIT

1.370 Kapal Fiber KNMP Diproduksi di Manokwari, Buka Peluang Kerja bagi Putra Papua

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:56 WIT

Satgas Damai Cartenz Tangkap DPO Penganiayaan Berat di Puncak jaya, Dugaan Keterkaitan Jaringan Senjata dan Amunisi Didalami

Kamis, 22 Oktober 2026 - 05:05 WIT

Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Papua, Kodam Cenderawasih Perkuat Penanganan Karhutla

Berita Terbaru

Uncategorized

KNMP SUPRAU PERKUAT RANTAI USAHA PERIKANAN DI SORONG PAPUA BARAT DAYA

Minggu, 25 Okt 2026 - 16:42 WIT