SUARATANAHPAPUA.COM – Menyusul pernyataan kontroversial Walikota Jayapura, yang menyebut pelaku aksi demo dan pemalangan bukan berasal dari masyarakat Port Numbay melainkan “orang gunung”, Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, angkat suara dan menyampaikan kritik keras serta seruan persatuan kepada seluruh masyarakat Papua.
Dalam kapasitasnya sebagai tokoh Papua dan pemimpin daerah, Pahabol menegaskan pentingnya menjaga keutuhan orang asli Papua di tengah pergeseran batas administratif akibat pemekaran wilayah.
“Saya bicara dari kesatuan tubuh orang Papua. Papua boleh dipecah menjadi enam provinsi, tapi orang Papua jangan sampai terpecah. Kita satu, satu budaya, satu DNA, satu rumah,” tegas Dr. Pahabol.
Menurutnya, pernyataan wali kota tidak mencerminkan semangat kepemimpinan yang inklusif, melainkan justru memperuncing identitas kultural yang seharusnya menyatu. Ia menyayangkan adanya dikotomi “orang pantai” dan “orang gunung” yang kembali dihidupkan di ruang publik.
“Seorang pemimpin harus bijak dan berhikmat. Tidak boleh membangun narasi yang menyakiti dan memecah orang Papua yang satu kultur. Itu pernyataan yang tidak layak keluar dari seorang kepala daerah, apalagi tokoh adat,” kata Pahabol.
Ia menilai bahwa semangat kebersamaan telah sejak lama dijaga oleh para tokoh Papua terdahulu, seperti Barnabas Suebu, John Ibo, Henock Ibo, mendiang Lukas Enembe, hingga Welington Wenda, yang selalu mengedepankan persatuan lintas suku dan wilayah.
Pahabol juga memuji sosok mantan Walikota Jayapura, Benhur Tomi Mano, sebagai contoh pemimpin yang mampu merangkul semua golongan. Ia menyinggung pernyataan Tomi Mano saat mendukung Yunus Wonda menjadi Bupati Jayapura.
“Saya dukung 100 persen ucapan Tomi Mano yang menyambut kepemimpinan Yunus Wonda dengan istilah, ‘Batu yang sudah turun dari gunung tidak bisa kembali, tapi dia akan menetap.’ Itu pemimpin yang punya hikmat dan tahu menempatkan diri sebagai anak Papua,” ujarnya.
Terkait pernyataan Walikota Jayapura yang meminta warga asal Papua New Guinea (PNG) di kawasan Skouw untuk kembali ke negaranya, Dr. Pahabol mengingatkan bahwa pendekatan sejarah dan adat jauh lebih kompleks dari sekadar batas negara.
“Harus ditinjau kembali, dari tahun berapa mereka tinggal di sana? Kita bicara bukan hanya soal batas negara, tapi juga batas adat yang sering tak sejalan dengan batas administrasi,” tegasnya.
Ia juga menyentuh aspek spiritualitas, mengingatkan bahwa dalam iman dan filosofi hidup, setiap manusia adalah pendatang di dunia ini. Karena itu, tidak patut jika ada pemimpin yang menyatakan pengusiran terhadap sesama manusia.
“Dua dasar utama bagi setiap pemimpin Papua adalah kultur dan spiritualitas. Kami manusia Papua adalah satu ras – Melanesia. Dari Sorong sampai Merauke, dari gunung hingga pantai, kita adalah satu,” jelas Pahabol.
Ia pun menyerukan agar para pemimpin Papua tidak salah mengelola narasi, dan terus menjaga integritas dalam membina masyarakat serta warisan budaya.
“Cenderawasih itu hanya ada di Papua. Kasuari pun hanya hidup di tanah ini, dan menjadi lambang peta Papua. Itu artinya kita satu. Jayapura adalah wajah kita bersama, rumah semua orang Papua. Jangan rusak dengan narasi sempit dan sektarian,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Dr. Ones Pahabol kembali menguatkan pesan persatuan:
“Papua boleh terbagi, tapi orang Papua jangan sampai pecah. Kalau kita utuh, kita kuat untuk membangun tanah Papua,” pungkasnya.








