SUARATANAHPAPUA.COM – Mendapat Gelar Doktor Tentunya Tidak Mudah, dan Gampang. bahkan ada Pejabat negara Yang Dibatalkan Disertasi Doktornya karena Diduga Tidak Memenuhi Syarat.
Namun Kali ini Berbeda karena Kaka Besar Paulus Waterpauw yang saat ini tengah menjadi mahasiswa Doktoral Universitas Indonesia, membuktikan anak Papua Bukan kaleng Kaleng dan mampu.
Sebagai Syarat Disertasinya, Mantan Kabaintelkam POLRI itu menggelar FGD sebagai salah satu syarat Ujian Doktoral.

Dasarnya adalah Melihat Ada Polarisasi sosial dan politik akibat penyalahgunaan media digital menjadi perhatian serius berbagai pihak di Jayapura, sehingga Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Resolusi Konflik Berbasis Pancasila di Tengah Polarisasi Era Digital di Jayapura: Perspektif Politik, Sosial, dan Peacebuilding” digelar pada Sabtu (17/5/2025) di salah satu hotel di Kota Jayapura.

FGD ini menghadirkan tiga Panelis Yaitu Dr Margareta Hanita (perspektif politik), Dr Arthur Josias Simon (perspektif sosial), dan Profesor A. Hanif Ghafur (perspektif peacebuilding dan resolusi konflik) dan moderator Dr Agus Sumule.
FGD Diawali dengan Menyanyikan Indonesia Raya yang dipandu Oleh MC Syula Ansanay.
Paulus Waterpauw sebagai keynote speaker , dalam paparannya sebagai mahasiswa program Doktoral Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia Menyampaikan beberapa Poin dalam Disertasi yang disusunnya, yaitu keanekaragaman budaya, etnis, agama di Papua tentunya sangat rentan terhadap Konflik.
Berbagai insiden kekerasan dan ketegangan sosial juga semakin dipicu dengan narasi narasi ekstrem di media sosial.
“Kota Jayapura, dan Kabupaten di Sentani adalah pintu masuk wilayah timur Indonesia. Polarisasi di media sosial bisa memicu ketegangan horizontal, jika narasi ekstrem terus menyebar tanpa kontrol,” ujar Paulus.
Ia mengusulkan Model Resolusi Konflik Berbasis Pancasila sebagai pendekatan strategis.
“Deteksi dan analisis polarisasi, Pendidikan dan literasi digital , dialog inklusif dan musyawarah, serta kampanye narasi positif menjadi solusi lewat media digital,” jelasnya
Paulus Waterpauw yang di sapa akrab PW menegaskan bahwa dengan mengangkat nilai-nilai pancasila menjadi model resolusi konflik yang komprehensif dan kontekstual dapat meredam konflik dalam masyarakat majemuk dan setiap sila memiliki relevansi praktis mediasi digital.
“Sila pertama untuk mendorong toleransi beragama,sila kedua menekankan prinsip penghormatan martabat,sila ketiga menguatkan identitas bersama, sila ke empat melakukan musyawarah dan sila kelima program digital inclusion,”terangnya
Paulus juga menekankan bahwa tantangan polarisasi digital bersifat multidimensional, mencakup aspek sejarah, struktural, dan teknologi. Oleh sebab itu, pendekatan holistik yang konsisten menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.
Kegiatan FGD ini diikuti oleh lebih dari 80 peserta yang terdiri atas akademisi, tokoh adat dan agama, aktivis media sosial, jurnalis, mahasiswa, perwakilan pemerintah daerah, hingga pegiat LSM dan komunitas perdamaian.
Dari forum ini diharapkan lahir pemetaan tantangan serta rumusan langkah konkret dalam membumikan nilai-nilai Pancasila di ruang digital, khususnya dalam konteks keberagaman lokal di Papua. Jayapura dan Sentani diharapkan dapat menjadi model replikasi ekosistem digital Pancasila yang toleran, inklusif, dan bersatu,’tutupnya.
Apresiasi juga dilontarkan sejumlah tokoh, yaitu TOkoh Agama, Tokoh Adat dan Forum Lintas kerukunan Beragama, yang memaparkan bagaimana metode yang disampaikan Paulus Waterpauw Lewat Disertasi ini bisa menjadi Role Model Penanganan Konlfik di Papua.
“Kami Apresiasi dan ini memang yang terjadi di papua sehingga judul ini bagus dan ini harusnya menjadi model penanganan konflik saat ini,” Kata junaidi rahim selaku Anggota DPRP dan juga Ketua FORKOM Nusantara.

Ketua DAP tabi, yakonias Wabrar juga Mengapresiasi apa yang diangkat Kakak Besar, dengan itu bisa menjadikan model utama di Papua dalam penanganan Konflik. ” Kami senang kk besar hadir dan memaparkan ini sangat penting desertasi ini sangat penting bagi kami dan harusnya bisa kami terapkan langsung,”Katanya.
Selain itu juga ada Constan Karma yang hadir sebagai mantan Sekda dan PJ Gubernur Papua, merupakan birokrat sejati. ” Ini resolusi konflik lewat digital yang ditwarkan oleh bapak paulus ini sangat bagus, dan ini sudah cocok diterapkan saat ini, karena bicara pancasila ini penting dan harus ada terus di digital,” Katanya.
Sementara itu juga perwakilan pelajar di SMA Negeri 4 yang hadir , aktif bertanya kserta mengungkapkan era saat ini pancasila memang sudah ditinggalkan, sehingga nilai pancasila harus terus digaungkan lewat digital sehingga konflik yang terjadi bisa diminimalisir.







