SUARATANAHPAPUA.COM – Pimpinan Komite Eksekutif Papua menggelar pertemuan strategis dengan jajaran direksi PT Freeport Indonesia yang dipimpin Presiden Direktur Tony Wenas di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Pacific Century Place, Jakarta Selatan tersebut dihadiri Ketua Komite Eksekutif Papua Velix Vernando Wanggai, Paulus Waterpauw, Ali Hamdan Bogra, Ignatius Yogo Triyono, John Gluba Gebze, Ari Sihasale, dan Ibu Yanni.
Ketua Komite Eksekutif Papua Velix Vernando Wanggai menjelaskan bahwa pertemuan tersebut membahas sinkronisasi rencana pembangunan jangka panjang Papua dengan rencana strategis PT Freeport Indonesia hingga tahun 2041 bahkan 2061.
“Pertemuan ini membahas grand design pembangunan Papua ke depan, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga penguatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Dalam sektor pendidikan, dibahas program “Papua Cerdas” yang mencakup pengembangan sekolah sepanjang hari (full day school), sekolah berasrama (boarding school), hingga rencana pembangunan perguruan tinggi bertaraf internasional.
Sementara di sektor kesehatan, fokus diarahkan pada penguatan layanan di wilayah terpencil, termasuk pembangunan puskesmas serta rencana pembangunan rumah sakit guna meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat Papua.
Selain itu, agenda “Papua Produktif” turut menjadi perhatian, terutama dalam mendorong keterlibatan masyarakat asli Papua dalam investasi, pengembangan kawasan ekonomi, serta rantai pasok bisnis PT Freeport Indonesia.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak berencana menyusun nota kesepahaman (MoU) yang mencakup peta jalan (roadmap) kolaborasi periode 2026–2029, serta arah kebijakan strategis hingga tahun 2041.
Velix menegaskan pentingnya pendekatan baru dalam investasi di Papua yang lebih inklusif.
“Ke depan harus ada cara baru dalam investasi di Papua, dengan mengutamakan orang asli Papua serta pemerintah daerah,” tegasnya.
Usai pertemuan, Paulus Waterpauw menyebut diskusi berlangsung konstruktif, termasuk membahas potensi pemanfaatan material sisa tambang (tailing) yang masih memiliki nilai ekonomi.
“Dari sisi investasi, ada potensi yang bisa kita dorong, termasuk pengelolaan sisa hasil tambang yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan melalui konsep sekolah berasrama serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah operasional perusahaan.
“Kami berharap semua pihak dapat membantu menjaga keamanan, sehingga aktivitas perusahaan berjalan baik dan tidak terganggu,” katanya.
Sementara itu, anggota Komite Eksekutif Papua, Ali Hamdan Bogra, menyoroti pentingnya pemberdayaan sumber daya manusia asli Papua, khususnya di sektor kesehatan.
Ia mengusulkan agar anak-anak Papua didorong untuk mendapatkan pendidikan sebagai tenaga kesehatan dan tenaga pendidik, sehingga dapat kembali mengabdi di daerah masing-masing.
“Kami ingin anak-anak Papua memiliki kesempatan menjadi tenaga kesehatan dan guru, sehingga kebutuhan di daerah dapat terpenuhi oleh putra-putri daerah sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, usulan tersebut telah mendapat respons positif dari PT Freeport Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan rencana pembangunan fasilitas kesehatan di Papua.
Ali berharap program tersebut dapat disinergikan dengan pembangunan rumah sakit ke depan, sehingga tenaga kesehatan lokal dapat langsung diberdayakan sesuai kebutuhan wilayah.
“Harapannya, tenaga kesehatan dari Papua bisa menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah masing-masing,” pungkasnya.
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah dan sektor swasta dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di Papua.








